Kartini Ismail dan Semangat Kerelawanan: Dari Kader Posyandu Hingga Pemandi Jenazah

“Saya senang bila melihat ibu-ibu dan balita yang jadi sasaran Posyandu semuanya sehat,” akunya.

Walau sebelumnya dia diajak oleh petugas kesehatan menjadi kader Posyandu, tetapi kini ia melakoni aktivitasnya itu sebagai panggilan hati. Baginya, Posyandu memberi dia peluang untuk belajar.

Setelah bergabung menjadi kader Posyandu, ia mulai membenahi Posyandu agar lebih menarik dikunjungi. Ia membuat inovasi, meningkatkan cakupan kunjungan, untuk skrining awal guna mencegah penyakit.

Ketika ditanya, apa manfaat yang ia peroleh? Penyuka warna hitam itu menjawab lugas, “Wawasan saya kian bertambah, dan banyak ilmu pengetahuan yang diperoleh. Saya juga bisa lebih banyak mengenal dan dikenal orang.”

Kini, selain sebagai kader Posyandu, Kartini Ismail punya aktivitas seabrek. Ia andal sebagai MC (Master of Ceremony), aktif sebagai kader KB (Keluarga Berencana), pengurus PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga), Ketua Shelter Warga, kader TB (Tuberkulosis), dan Tim Pendamping Keluarga (TPK).

Masih ada lagi aktivitasnya yang lain. Kartini Ismail merupakan Ibu Relawan Baca, Pengurus Forum Kota Sehat,
Ketua Forum Komunikasi Kecamatan Sehat, serta juru masak makanan tambahan untuk ibu hamil dan balita.

BACA JUGA:  Mengenang Awal Reformasi 1998 Dari Ruang Rawat Inap Kutonton Presiden Berganti

Selain itu, ia juga bekerja sebagai pemandi jenazah. Sebuah pekerjaan yang tidak banyak digeluti orang. Bahkan mungkin terdengar seram bagi sebagian orang.

Di luar aktivitas sosialnya, jiwa wirausahanya juga tumbuh baik. Ia merupakan pemilik brand aneka kacang “Mama Tiny” yang menyediakan beragam jenis citarasa kacang.

Aneka kacang Mama Tiny diproduksi sendiri. Omzetnya bisa mencapai Rp10 juta seminggu, terutama saat Hari Raya Idulfitri, atau Hari Natal.

“Pemasaran kacang Mama Tiny melalui media sosial dan jejaring sosial. Infonya dari satu orang ke orang lain,” jelas Kartini Ismail.

Sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD) menjadi mitranya hingga kini. Sebut di antaranya Dinas Kesehatan, Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana, Dinas Koperasi dan UMKM, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A), serta Dinas Perpustakaan.

Kartini paham betul arti jejaring dan kolaborasi, dan ia merawatnya dengan baik. Dalam perspektif hak, ia menggunakan hak partisipasinya sebagai warga kota. Sedangkan, dalam konteks agama, ia mengamalkan silaturahmi dalam wujud pertemuan dan pertemanan.

BACA JUGA:  Lahan Contoh Penghijauan di Kec. Parado Bima (5-Habis): Lagu Lara Petani Jagung

*Semangat Kerelawanan*

Aktivitas Kartini Ismail didasarkan pada semangat volunteerism (kerelawanan). Mereka yang memiliki jiwa kerelawanan bekerja secara sukarela tanpa paksaan. Ia tergerak secara tulus karena kepedulian, tanggung jawab sosial, dan panggilan nurani. Akarnya ada pada nilai-nilai gotong royong yang dimiliki masyarakat Indonesia.