Semangat kerelawanannya tampak pula pada aktivitasnya sebagai kader KB. Tugasnya melakukan pendataan sekaligus meng-input datanya, melakukan penyuluhan, mencari akseptor KB, hingga mengantar Makanan Bergizi Gratis (MBG).
“Tantangan sebagai kader KB, bila ada pasangan usia subur yang belum mau ber-KB, dan penerima MBG yang malas,” ujarnya.
Sementara di kepengurusan PKK, Kartini Ismail menjadi Ketua Pokja 4.
Tupoksinya mengkoordinasikan ketua dan pengurus Pokja untuk membuat program kerja, update data, dan mensosialisasikan kegiatan kesehatan, kelestarian lingkungan hidup, dan perencanaan sehat yang menjadi bagian tupoksi pojok 4 di 10 Program Pokok PKK.
Semangat kerelawanan juga yang jadi dasar ia aktif di Shelter Warga. Shelter merupkan tempat mediasi dan solusi bagi masalah-masalah yang terjadi di warga. Contohnya, kasus pertengkaran antartetangga, ribut-ribut rumah tangga, dan pelecehan seksual.
“Semua kasus kami usahakan selesai secara mediasi dan kekeluargaan, kecuali kasus pelecehan seksual,” terang Kartini Ismail.
Sebagai kader TB, ia berupaya memutus rantai penularan penyakit yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis yang menyerang paru-paru itu. Tentu saja, pendekatannya pada pasien TB dan keluarganya. Namun justru itu yang jadi tantangannya sebagai kader TB.
“Kadang ada pasien yang mangkir berobat. Ada juga saat saya mengambil dahak pasien, ternyata dahaknya dicampur air agar hasilnya terbaca negatif,” kisah Kartini Ismail sambil geleng kepala.
Pengalamannya sebagai kader TB penuh suka dan duka. Sukanya, kata dia, bila melihat pasien TB sembuh, dan keluarganya mau minum anti pencegahan. Sedangkan dukanya, lanjut Kartini, bila dia mau turun mendampingi pasien TB, sementara kondisi tubuhnya kurang fit.
Energi sebagai kader memang harus senantiasa terjaga. Termasuk sebagai Tim Pendamping Keluarga (TPK), yang bertugas mendampingi catin, ibu hamil, dan ibu nifas, untuk mendapatkan info dan pelayanan kesehatan. Sebagai TPK, ia juga bertugas mendata warga yang akan mendapat bantuan sosial, melakukan peng-input-an data, dan mengantar MBG.
“Saya mesti gesit keliling kampung untuk bertemu sasaran. Ini tugas yang kasi keluar keringat,” selorohnya.
Kartini Ismail, juga merupakan pengurus Forum Kota Sehat. Ia menjadi bagian dari tim untuk merumuskan dan bekerja demi menuju Makassar sebagai kota sehat, bersih, sejahtera, inklusif, dan berkelanjutan.
Tugas-tugas ini setali tiga uang dengan posisinya sebagai Ketua Forum Komunikasi Kecamatan Sehat. Sebagai ketua, ia mesti berkordinasi dengan camat, lurah, kepala Puskesmas, dan pengurus Pokja Sehat Kelurahan.













