Di antara tumpukan jurnal Prisma dan catatan tangan, tergeletak minuman yang sudah dingin.
“Den, lihat ini, “tulisnya. “Gue baru temukan catatan diskusi kita tahun 1990. Masih relevan: kecerdasan bukan untuk patuh, tapi untuk berani.”
Saya tak segera membalas. Tapi di kantornya yang sepi, ia sedang tersenyum.
Seperti biasa, Harwieb tak butuh tepuk tangan. Cukup secangkir minuman, kertas-kertas yang bernafas, dan keyakinan bahwa gagasan yang historis tak pernah kadaluarsa.
-000-
Seminggu yang lalu, sahabat kami, Nur Imam Subono (Boni), mengabarkan kabar yang lebih berat: Harwieb sakit keras.
Dan kemudian, pagi itu, Harwieb benar-benar pergi.
Kepergian Harwieb bukan sekadar kehilangan sahabat. Ia tipe manusia yang kini makin langka: mereka yang berpikir sambil bertindak, dan bertindak sambil berpikir.
Aktivis-pemikir. Pemikir-aktivis. Ia bukan hanya menulis tentang perubahan, tapi hidup di dalam perubahan itu.
Ia adalah contoh bahwa perlawanan tak selalu bersuara keras. Kadang ia berwujud kalimat panjang di jurnal ilmiah, atau kerutan di dahi yang sedang membaca ulang Karl Marx.
Di zaman ketika opini dipendekkan oleh algoritma, dan pemikiran dipatahkan oleh ketergesaan, sosok seperti Harwieb adalah pengingat bahwa kedalaman tetap penting. Bahwa pemikiran tak boleh kehilangan waktu untuk merenung.
-000-
Hari ini, saya ingin membuat janji kecil untuk sahabat saya itu.
“Harwieb, Index Hak Asasi yang kau gagas, akan kugali lagi. Akan kubangun ulang, sebagai peringatan bahwa engkau pernah hidup, dan pernah sangat berarti.”
Saya percaya, ada dua jenis kematian: yang menghapus nama, dan yang menyuburkan kenangan. Harwieb bukan hanya hidup dalam sejarah kecil gerakan mahasiswa. Ia hidup dalam ide yang belum selesai. Dan karena itulah, ia belum sepenuhnya mati.
Selamat jalan, Harwieb. Di jalan sunyi para pemikir yang tak minta pujian, engkau menjadi bintang tentang sebuah sikap hidup.
Jakarta, 19 Mei 2025
CATATAN
1. Denny JA, “Negara, Masyarakat, dan Mahasiswa,” Kompas, 11 Juni 1986. Referensi ini disebutkan dalam artikel “Surat-surat yang Mencerahkan” di Kompas.id: https://www.kompas.id/baca/humaniora/2020/07/13/surat-surat-yang-mencerahkan
-000-
Ratusan esai Denny JA soal filsafat hidup, political economy, sastra, agama dan spiritualitas, politik demokrasi, sejarah, positive psychology, catatan perjalanan, review buku, film dan lagu, bisa dilihat di FaceBook Denny JA’s World
https://www.facebook.com/share/15NXTMtez5/?mibextid=wwXIfr












