Dalam konsepnya, mereka juga akan mengoptimalkan rute transportasi publik. Mereka akan meningkatkan layanan bus kota serta merancang jalur pedestrian yang terintegrasi dengan titik transit. Selain itu, juga menyediakan tempat tunggu di area transit guna menghadirkan kenyamanan bagi pengguna.
Setelah meninjau lokasi di sana, mereka menyarankan agar tenan-tenan yang ada di Lego-Lego dimundurkan, biar ada ruang yang lebih lapang. Begitupun di sekitar area Masjid 99 Kubah 99 atau Masjid Asmaulhusna, disarankan agar ditanami tumbuhan hijau yang rimbun.
Dr Ir Mursalim, ST, mengaku kagum dengan kemampuan Elisabeth, Andini, dan Azzahra. Sebab, walau anak-anak ini mengambil jurusan perhotelan tapi mambu membuat miniatur kawasan dalam bentuk maket.
Sebagai dosen teknik sipil di Universitas Atmajaya, Makassar, dia mengapresiasi mereka yang dianggap paham soal teknik. Hanya saja, anak-anak ini disarankan agar kalau nanti membuat maket lagi, perlu menentukan skalanya. Namun begitu, Dr Mursalim tetap menyebut mereka anak-anak yang hebat.
Selain maket Lego-Lego, ada dua maket lain, masing-masing karya siswa SMA Negeri 17 Makassar dan siswa SMK Negeri 3 Gowa.
Siswa SMA Negeri 17 Makassar membuat maket berupa Gen Z Takeover Kota Makin Keren. Mereka mengimajinasikan dan berfokus pada aksesibilitas, keamanan lalu lintas dan estetika kota.
Para pelajar yang peduli pada perkembangan kota ini menawarkan beberapa solusi kreatif inovatif untuk meningkatkan kualitas area Jalan Boulevard, di depan Mal Panakukang.
Anak-anak ini mengimajinasikan halte bus Mamminasata yang teratur, perluasan parkiran motor agar mengurangi parkir liar, serta membuat jembatan penyeberangan di depan Mal Ratu Indah demi keamanan.
Usulan lainnya, berupa perlunya membuat trotoar khusus pejalan kaki. Masih ada lagi, pembuatan pembatas jalan dengan pohon, yang tidak saja aman, tapi juga ada sentuhan estetika dan dapat mengurangi polusi udara.
Lain lagi imajinasi siswa SMK Negeri 3 Gowa. Mereka membuat maket yang menggambarkan kota masa depan dengan layanan kesehatan emergency inklusif.
Dibayangan mereka perlu adanya layanan emergency yang terintegrasi, jalur akses khusus untuk ambulans dan layanan darurat, infrastruktur yang ramah disabilitas, serta teknologi dan inovasi kesehatan.
Yang tidak kalah penting, menurut mereka, perlu kesadaran dan edukasi masyarakat, untuk menjadikan kota yang responsif dan progresif. (*)












