Saat berkunjung itu, saya memang beberapa saat menunggu.
“Prof, saya minta arahan dulu, karena di Unhas ini akan terjadi pergantian pimpinan Unhas dari Prof.Idrus. Saya belum memutuskan, tetapi bagaimana pandangan Prof. Amir kalau saya juga akan maju. Sebab, banyak isu miring, perempuan itu tidak layak memimpin,’’ kata saya begitu duduk dengan Prof. Amiruddin, sementara Ibu Rosani juga ikut bareng dengan kami .
Oh.. ternyata Prof. Amir langsung merespons cepat.
“Itu..siapa pun berhak memimpin Unhas kalau dia punya kemampuan leadership. Dan, dia punya visi. Masalah laki perempuan, itu bukan persoalan,’’ Pak Amir menegaskan..
Setelah mendengar respons tersebut, saya sangat salut dan tidak menduga akan seperti itu pernyataan beliau.
“Tapi, Prof, lambang Unhas kan ayam jantan, bagaimana?,” saya yang masih sedikit penasaran bertanya lagi.
“Lambang itu hanya sekadar simbol, yang penting lambang itu harus diisi. Siapa yang mengisinya? Itu tidak dari jenis kelamin!,” ujar Prof. Amir sampai Ibu Rosani yang ikut nimbrung ikut mendengarnya.
Saya benar-benar memperoleh pandangan yang menyelipkan motivasi yang sangat luar biasa. Terus terang, ini pertama kali saya mendengar bahwa untuk mengisi posisi pimpinan, apalagi lambang (yang ayam jantan) tidak ditentukan oleh aspek gender.
Dari pernyataan Prof. Amir tersebut, saya jadi semangat. Padahal, kalau kita pikir Prof. Amir dengan masa lalunya dan di saat ini, prinsip egaliternya soal hak itu luar biasa.
“Jadi, Prof. Kalau menurut Prof jika saya mendapat dukungan, tetap akan maju (jadi calon rektor)?,” tanya saya yang tetap penasaran.
“Iya.. siapa pun, yang penting dia punya visi. Dia mau bawa ke mana Unhas ini,’’ jawab Prof. Amir.
Kalimat ini kian menambah semangat saya. Membulatkan diri maju sebagai kandidat rektor periode 2014-2018. Setelah pertemuan tersebut – pada tahun 2012 setelah kembali dari Yordania — saya makin lebih sering bertemu Prof. Amir. Setelah pertemuan pertama di Baruga ini, saya masih berkunjung sekali lagi ke Baruga.
Pada saat mulai deklarasi, sebelum ibu Rosani meninggal, saya juga mengundang Prof. Amir. Saya katakan waktu itu, “Prof, jika berkenan hadir pada acara deklarasi (di halaman kediaman Prof.Dr.Ir. H.M.Nurdin Abdullah, M.Agr. di Kompleks Perumahan Dosen Unhas Tamalanrea), saya mau kumpul teman-teman, Kalau mungkin Prof bisa hadir, tetapi nggak hadir juga tidak apa-apa”.
Ternyata, pada malam pertemuan dengan teman-teman tersebut, Prof. Amir hadir pada acara yang dilaksanakan di pelataran tanah kosong kediaman Prof. Nurdin Abdullah. Prof. Amir berjalan masuk ke pelataran dengan tertatih-tatih ditemani oleh driver-nya. Prof.Basri Hasanuddin dan Prof. Radi A.Gany juga hadir.
“Masya Allah,’’ gumam saya melihat Prof. Amir mau meluangkan waktunya menghadiri acara tersebut. (Bersambung, MDA).












