Daeng Lawa Asal Takalar, Pernah Berkongsi Buka Warung Coto di Surabaya (Bagian 2)

Bantu Nenek dan Beli Sepeda Motor

Daeng Lawa ingat, sewaktu bekerja jadi pelayan di Sidrap, dia diupah sebesar Rp2.500 sehari. Ini sudah termasuk honornya sebagai pembuat bumbu coto. Ketika posisinya naik sebagai pengiris daging, baik selama di Sengkang maupun Pari’risi, bayarannya meningkat menjadi Rp30.000 per hari.

Meski sejak pertama bekerja upahnya terbilang kecil, tapi dia sudah bertekad membantu neneknya di kampung. Upahnya yang masih Rp2.500 sebagai pencuci mangkuk, tidak dia habiskan. Dia rupanya ikut arisan per minggu, sebesar Rp2.500. Kalau arisannya naik, dia membantu keperluan neneknya.

“Saya belikan nenek saya, seng untuk memperbaiki rumahnya, membeli kursi, lemari, Al-Qur’an, dan banyak barang lainnya,” beber Daeng Lawa.

Ketika di Sidrap, sebagai pelayan, dia tidak sempat membeli barang. Nanti saat bekerja di Sengkang, baru dia membeli sepeda motor Yamaha Jupiter Z. Dia membeli sepeda motor yang dijuluki sebagai burung hantu itu dengan cara kredit.

Menurut ceritanya, dia termotivasi membeli sepeda motor itu karena ketika dia pulang kampung, dia melihat teman-temannya sudah punya sepeda motor. Teman-temannya itu, juga bekerja sebagai pelayan di warung coto. Lalu dalam hati dia berucap, “Masak mereka bisa punya sepeda motor, sementara saya tidak.” Sejak itu, dia berusaha untuk hidup hemat demi bisa menyicil sepeda motor. Dia bahkan berhenti merokok agar bisa menyisihkan upahnya untuk biaya membayar panjar sepeda motor.

BACA JUGA:  Dua Penulis Bersua Saat Salat Jenazah

“Bos saya bilang, untuk cicilan bulanan motor ta gampang. Gaji ta disimpan, nanti butuh baru diambil,” kenang Daeng Lawa menirukan kata-kata bosnya saat itu.

Sepeda motor itu terpaksa dijual ketika dia butuh uang untuk biaya perkawinannya dengan kekasih pujaannya, Daeng Tarring, yang kini jadi istrinya. Katanya, istrinya itu merupakan anak yatim. Bapaknya sudah meninggal, dan dia tinggal dengan orang. Daeng Lawa bersyukur, dia telah dikaruniai seorang anak perempuan, yang kini duduk di bangku kelas 6 SD.

“Kalau saya ingat dulu berhenti sekolah, saya menyesal. Apalagi teman-teman saya ada yang sudah jadi tentara, karyawan PLN, dan macam-macam profesi lainnya,” ujar Daeng Lawa pelan saat kami memasuki halaman The Hidden Garden Sofresh’na yang berada di belakang rumah Daeng So’na.

The Hidden Garden Sofresh’na ini milik Irmawati Daeng So’na bersama Rayhana Anwarie, keduanya merupakan pengelola startup Sofresh’na Indonesia. SePAKat juga merupakan bagian dari gerakan yang mereka bangun. Di sinilah sejak beberapa tahun terakhir, Daeng Lawa mengabdikan diri bekerja, sekaligus sebagai aktivis. Selain kebun sayur, di sini juga terdapat dua bangunan rumah tradisional, yang masing-masing dinamakan Baruga Puan Tani dan Rumah Daulat Pangan. (*)