Setelah kami duduk di balai kayu yang berada di bawah rumah Daeng So’na, Daeng Lawa pun melanjutkan ceritanya.
Suatu ketika, dia melihat titik terang dalam hidupnya. Harapannya tumbuh, manakala seorang kenalannya di Sidrap mengajaknya berkongsi untuk membuka warung Coto Makassar sendiri. Kenalannya itu orang Sidrap, yang beristri wanita Jawa. Dia lantas mengajak Daeng Lawa ke Surabaya, Jawa Timur, untuk membuka warung Coto Makassar di sana. Daeng Lawa setuju. Mereka kemudian membuat kesepakatan bagi hasil dalam pengelolaan warung coto tersebut.
“Dia teman baik saya. Dia bukan pengusaha, mungkin orang kantoran tapi punya modal,” kisah Daeng Lawa.
Daeng Lawa kemudian berangkat ke Surabaya naik kapal laut. Temannya itu yang membayar ongkosnya. Selama di Kota Surabaya, dia tinggal di rumah kontrakan, dengan biaya sewa sebesar Rp11 juta/tahun. Lokasinya itu, seingat Daeng Lawa, seperti jalan kompas, bukan berada di jalan utama. Di situ pula mereka membuka warung coto, namanya warung Coto Daeng Lawa, menggunakan namanya. Harga semangkuk coto di warungnya dijual Rp25.000.
Untuk menjaga orisinalitas dan cita rasa cotonya, semua peralatannya dibawa dari Takalar, termasuk kuali tanah liat dibawa dari Paddinging. Kuali tanah liat itu dipesan dari Desa Pa’batangang, yang dikenal sebagai sentra pembuatan gerabah di Kecamatan Mappakasunggu, Kabupaten Takalar.
Awalnya, usaha warung coto mereka berjalan baik, Namun, belakangan temannya itu mengubah kesepakatan. Bukan lagi bagi hasil, sebagaimana pembicaraan di awal. Mitra bisnisnya itu malah menggajinya per hari, layaknya karyawan biasa. Tentu saja Daeng Lawa tak terima. Dia memprotesnya.
“Saya bilang, bagaimana ceritanya ini? Mengapa kita ubah kesepakatan yang dibuat?” tanya Daeng Lawa sengit.
Suatu malam, cerita Daeng Lawa, dia mencari cara supaya berhenti dari warung coto yang belum lama dirintisnya itu. Dia menggeser tungku, agar nanti kualinya jatuh dan pecah. Dia memang sengaja mencari gara-gara agar bisa berhenti dan keluar dari situ. Itu skenarionya. Benar saja, begitu kualinya jatuh dan pecah, dia tidak mau lagi menjual coto.
Menurutnya, menjual coto menggunakan kuali dari tanah liat atau gumbang, ada ciri khasnya. Baunya lebih harum, dan kuah coto lebih tahan panasnya. Kalau jenis kayu bakarnya, boleh apa saja dipakai, yang penting dijaga apinya agar terus menyala. Selain itu, beda pula rasanya kalau menggunakan kayu bakar dibanding kompor. Pedagang, katanya, memilih menggunakan tungku kayu bakar karena lebih hemat atau irit dibanding bila kompor yang menggunakan minyak tanah atau gas.
Setelah kualinya pecah, mitra usahanya itu membujuknya agar tetap berjualan. Dia dianjurkan memasak kuah coto dengan menggunakan dandang aluminium. Namun, Daeng Lawa bersikeras bahwa beda rasanya kalau menggunakan periuk tanah liat. Aroma khas coto lebih terasa, dibanding bila dimasak dengan dandang aluminium. Kejadian ini kemudian mengakhiri perjalanannya di Kota Pahlawan tersebut. Daeng Lawa akhirnya pulang kembali ke Makassar.
“Semua penjual Coto Makassar itu lama prosesnya baru mereka bisa berhasil. Harus bersabar, dan bersabar terus,” katanya optimis.
Dia, katanya, sering medengar cerita para penjual coto, bahwa dahulu orangtuanya kalau menjual coto dengan cara dipikul. Mereka berkeliling sambil memikul jualannya. Bisa dibayangkan, betapa beratnya memikul gumbang beirisi kuah coto itu. Apalagi kalau dagangannya itu dipikul ke mana-mana. Cerita inilah yang terasa selalu menghibur dirinya, agar tak berhenti berusaha dan berdoa.












