Bontonyeleng 24 Jam

Mengapa? Karena sang pemilik toko tak memiliki keturunan (anak) yang dapat mewarisi atau melanjutkan usahanya, sehingga harta warisan tersebut dibagi oleh para saudara si laki-laki dan perempuan.

Begitulah kiranya perjalanan toko berbalut kesedihan. Mungkin desa-ku tak akan memiliki rekam jejak pada toko-toko kecil ketika tidak ada toko Daeng Aji.

Hadirnya mengisahkan perjalanan sepasang yang bertumbuh dengan usaha dan kemandirian. Masyarakat banyak belajar dari beliau dan hingga kini di 2024 toko-toko kecil di desa-ku mulai mirip jamur.

Tumbuh secara liar dan bisa dijumpai 24 jam seperti toko H. Sappe. Toko tersebut adalah penyelemat bagi para pemuda yang sering begadang sebelum hari menyingsing fajar. Bisa dikatakan toko di Bontonyeleng saat ini tidak lagi mengenal jam tutup. Hampir menyerupai tumbuh-kembangnya toko di sekitaran kota Bulukumba. Begitu.

BACA JUGA:  Kenangan Seorang Jurnalis Radio: Jejaring Wartawan dan Ide Wawancara