Bontonyeleng 24 Jam

Awalnya hanya memiliki tanah sedikit (kecil) dan lambat laun memperlebar usaha dan membuka cabang toko yang tidak jauh dari toko utama.

Menyediakan segala keperluan masyarakat agar tidak lagi kesusahan dan harus ke kota Bulukumba berbelanja.

Penulis sendiri mengalami transisi kehadiran toko Daeng Aji sampai sekarang. Memudahkan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sekolah, rumah tangga, dan olahraga.

Hingga pada akhirnya toko Daeng Aji membuka ruang pada pemuda desa yang kreatif. Tak perlu menunggu lama Ia menjadi sponsor utama demi berjalannya kegiatan dan memberi kebahagiaan pada siapa saja.

Untung-untung juga toko tersebut promosi tentang diri agar memancing lebih banyak pembeli dan menjangkau lebih luas melalui bahasa tutur. Sepuluh tahun lebih toko tersebut hadir sebagai solusi masyarakat dalam menyelesaikan permasalahan duniawi.

Daeng Aji juga sering membantu masyarakat yang kurang mampu dengan sembako yang ada di tokonya. Kadang membantu dengan beras, telur, dan minyak goreng. Kemudahan itu berdampak pada masyarakat desa agar merasakan hal sama dengan mereka yang bisa membeli dengan uang banyak. Toko tersebut juga sering memberikan pinjaman (bom) kepada masyarakat desa yang dianggap kurang mampu.

BACA JUGA:  Prof Aminuddin Salle Karaeng Patoto, Balla Barakkaka ri Galesong, dan Kepemimpinan Appaka Sulapak

Banyak orang mengingat kebaikan itu dan bahkan orang-orang desa tak perlu lagi ke pasar sentral Bulukumba untuk berbelanja kebutuhan rumah tangga, sekolah, dan olahraga.

Meski begitu, waktu tak bisa berbohong. Toko Daeng Aji hanya bisa memberi kemudahan di era tersebut. 2019 sang istri meninggal dan toko tersebut mengalami kemunduran. Memang benar apa kata pepatah, bahwa dibalik lelaki sukses ada perempuan hebat dibelakangnya.

Begitulah kiranya toko Daeng Aji pada saat kematian sang istri. Bahkan saking terbukanya sang pemilik toko, sehingga banyak anak muda menjadikan toko tersebut sebagai tempat nongkrong.

Daeng Aji merespon kedatangan pemuda desa dengan menghadirkan meja karambol dan papan catur. Antusias pemuda begitu senang dengan permainan karambol dan catur.

Tak terelakkan bila Daeng Aji bermula dengan toko kecil dan merangkul pemuda, anak-anak kecil dan masyarakat agar transaksi kehidupan terus berputar seperti permainan karambol.

Banyak anak-anak desa menghabiskan waktunya di toko Daeng Aji, meski mereka datang tidak untuk berbelanja. Tapi, kedatangan anak-anak desa adalah melampiaskan naluri bermain.

BACA JUGA:  Kerikil, Anjing, dan Surga

Mungkin ini adalah salah satu cara untuk mengedarkan brosur melalui lisan terhadap kehadiran tokonya di kampung.

Desa Bontonyeleng memiliki banyak toko, tetapi tidak seperti toko Daeng Aji. Toko tersebut super lengkap dari toko yang lain, sehingga banyak masyarakat berbelanja di sana. Bahkan toko tersebut juga memiliki karyawan.

Penulis masih ingat salah satu karyawan pertama adalah Bucek (sapaan orang desa). Pemuda desa yang putus sekolah dengan alasan kesenjangan ekonomi.

Dengan begitu, Bucek memilih bekerja pada toko Daeng Aji agar bisa bertahan hidup di era kapitalisme. Seingat penulis, cukup lama toko Daeng Aji menggunakan tenaga orang lain dalam proses berlangsungnya transaksi barang. Saksi hidup perjalanan toko tersebut yang bisa dijumpai oleh penulis adalah Bucek.

Memasuki 2022 Daeng Aji meninggal dunia dan disitulah toko yang dirintisnya mulai sepi pembeli. Entah karena suasana yang mulai berbeda atau ada hal lain.

Tapi, semenjak kematian sang istri dan sang suami toko Kurnia mulai pasang surut. Toko yang kedua mulai pemasangan spanduk dikontrakkan dan bahkan di jual dengan harga pantastis. Pembagian warisan membuat toko tersebut kembali ke realitas awalnya: kecil.