AB Iwan Azis, Kunjungi Warkop Puluhan Tahun Tetapi Tidak Ngopi

Kepada Iwan Azis yang selalu mengajak ketemu untuk ngopi, saya menyampaikan bahwa tengah mempersiapkan buku bertema kopi. Sehingga artikel di media online dan tayangan terkait kopi di YouTube jadi santapan saya.

Misalnya, di salah satu kanal yang menjelajahi Wereldmuseum, Rotterdam, Belanda, ditampilkan arsip, bagaimana kopi bisa masuk Indonesia.

Di museum etnografi itu ditertulis bahwa kopi–yang dalam bahasa Belanda disebut koffie–didatangkan oleh kongsi dagang VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) ke Indonesia, tahun 1696.

Tertulis secara jujur bahwa mata-mata yang bekerja untuk VOC menyelundupkan kopi keluar dari Yaman yang, kala itu, memiliki monopoli atas perlindungan kopi.

Uji coba pertama menanam kopi di Kedawung, dekat Batavia, tahun 1696, gagal akibat bencana alam. Dilanjutkan upaya kedua, tahun 1699, Belanda kembali menanam stek kopi di berbagai tempat di Batavia dan daerah-daerah yang sekarang masuk wilayah Jawa Barat.

Hanya dalam tempo 15 tahun, tanaman kopi asal Indonesia (Hindia Belanda), mengejutkan dunia. Selain di Jawa, tanaman kopi juga ditanam di berbagai daerah di Nusantara.

BACA JUGA:  Laksda (Purn.) Dr.Ir.Abd.Rivai Ras, M.M.,M.S.,M.Si, IPU ASEAN Ing. IAPIM, Jembatan antara Pesantren dan Masa Depan Bangsa

Pada tahun 1711, Bupati Cianjur, Aria Wira Tanu III, mengapalkan sebanyak 4 kuintal kopi ke Amsterdam. Ekspor perdana ini langsung memecahkan rekor harga lelang di sana. Di tahun 1726, tidak kurang dari 2.145 ton kopi dari Pulau Jawa membanjiri Eropa.

Kopi asal Jawa seketika memikat dunia, dan mengalahkan kopi Mocha asal Yaman yang sebelumnya menguasai pasar. Sejak saat itu, kopi asal Pulau Jawa dikenal dengan nama Java Coffee.

Mengenal Tiga Generasi Pemilik Warkop Phoenam

Sejak masih belia Iwan Azis sudah mengenal Warkop Phoenam. Saat warkop ini masih di Jalan Nusantara, lalu pindah ke Jalan Jampea, sekarang Jalan Ho Eng Djie, kemudian membuka cabang di Jalan Boulevard, Panakkukang Mas.

“Paling sering saya di Warkop Phoenam, Jalan Jampea, karena mobilitas masih tinggi, dan dekat dengan Balai Kota Makassar,” terang pria yang masih tetap perlente itu.

Menurutnya, Warkop Phoenam di Jalan Nusantara bisa terkenal karena, dahulu, di dekatnya ada Perusahaan Daerah (Perusda).

Karyawan Perusda yang mengelola sandang pangan ini, biasa menunggu dan nongkrong di situ, sambil memesan kopi, roti selai kaya, roti goreng telur, atau roti kornet.

BACA JUGA:  Tak Kenal Maka Tak Sayang, ini Dia H Sunarto, S.Pd.,M.Si Ketua PGRI Lutim 2025-2030

Dahulu, hampir semua warkop berada di pojok atau tikungan. Dapur mereka selalu di depan. Namun, Phoenam tidak demikian. Mengapa? Sebab di samping kanannya juga berdiri warkop

“Saya beberapa waktu lalu ke Phoenam, dan memesan kopi susu. Pelayannya terlihat kaget. Sebab baru pertama kali saya pesan kopi. Lalu saya bilang, biar nanti kalau saya meninggal, kamu ingat saya,” kisah Iwan Azis bercanda.

Dia lalu menelepon Deddy, generasi ketiga pengelola Warkop Phoenam. Dia hendak mengkonfirmasi cerita tentang Phoenam agar saya tidak salah kutip.

Deddy lalu menjapri Iwan Azis, mengirimkannya sejarah “Para Pendiri Warung Kopi Phoenam”, kemudian diteruskan ke saya.

Dalam tulisan ringkas itu, disebutkan bahwa Warkop Phoenam pada awalnya didirikan oleh Liong Thay Hiong (kakek dari Deddy), didampingi dua kerabat dekatnya, dan seorang paman bernama Prof. Dr. Liong Thay Pheng.

Profesor Liong yang memberi nama Phoe Nam, artinya terminal atau tempat transit. Dimaksudkan sebagai tempat singgah di selatan bagi penikmat dan pencinta kopi di Makassar.

BACA JUGA:  Drs.Basman,S.H.,M.M, Bukan Orang Baru di PGRI Palopo

Sekira tahun 1930, Liong Thay Hiong bersama kerabatnya sering bolak-balik dari Hainan, China, untuk mencari peluang usaha. Akhirnya, di tahun 1946 mereka mendirikan warung Phoe Nam Cold Drink.

Hanya saja, saat itu, selain menyediakan kopi, teh, dan roti selai kaya, warung ini juga menjual minuman beralkohol, seperti Anker Bir dan lain-lain.