Ia menjelaskan bahwa sistem pendidikan inklusi di SIT Darul Fikri Makassar dirancang dengan menggabungkan kegiatan pembelajaran reguler, pendampingan individual, serta layanan terapi sesuai kebutuhan masing-masing siswa.
Dalam pelaksanaannya, anak berkebutuhan khusus tetap mengikuti proses pembelajaran bersama siswa reguler dengan dukungan tenaga pendamping.
Pada waktu tertentu, siswa juga mendapatkan layanan terapi di ruangan khusus untuk membantu perkembangan kemampuan komunikasi, interaksi sosial, kemandirian, maupun aspek perkembangan lainnya sesuai kebutuhan.
Setelah mengikuti kegiatan terapi, siswa dapat kembali melanjutkan pembelajaran di kelas bersama teman-temannya.
Rasyidin menilai, pendekatan terpadu tersebut memberikan kesempatan kepada anak berkebutuhan khusus untuk mengembangkan kemampuan secara lebih menyeluruh.
Selain memperoleh materi akademik, siswa juga mendapatkan dukungan dalam membangun kepercayaan diri, meningkatkan kemampuan berkomunikasi, serta beradaptasi dengan lingkungan sosial.
Dampingi Sekitar 102 Anak Berkebutuhan Khusus
Rasyidin Adnan mengungkapkan bahwa saat ini SIT Darul Fikri Makassar mendampingi sekitar 102 anak berkebutuhan khusus melalui sistem pendidikan inklusi yang telah dikembangkan pihak sekolah.
Untuk mendukung pelaksanaan program tersebut, sekolah menyiapkan sekitar 120 hingga 121 guru pendamping, termasuk guru pendamping khusus dan shadow teacher yang bertugas memberikan pendampingan individual kepada siswa.
Keberadaan tenaga pendamping menjadi salah satu unsur penting dalam memastikan setiap anak mendapatkan perhatian dan pelayanan sesuai dengan kebutuhan belajarnya.
Selain tenaga pendidik, sekolah juga memiliki sekitar 13 hingga 15 terapis yang memberikan layanan terapi kepada anak berkebutuhan khusus.
Menurut Rasyidin, setiap anak mendapatkan sesi terapi sekitar satu jam sebelum mengikuti kegiatan pembelajaran, dengan pelaksanaan pendampingan yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing siswa.
Layanan tersebut merupakan bagian dari sistem pendidikan terpadu yang dikembangkan untuk membantu anak mengoptimalkan kemampuan dan potensi yang dimilikinya.
Rasyidin menegaskan bahwa pendekatan pendidikan inklusi tidak hanya berorientasi pada kemampuan anak mengikuti pelajaran di kelas, tetapi juga memperhatikan perkembangan sosial, emosional, komunikasi, dan kemandirian mereka.
Ia menjelaskan bahwa keberhasilan pendampingan anak berkebutuhan khusus membutuhkan kerja sama yang kuat antara guru, terapis, orang tua, dan seluruh unsur lingkungan sekolah.
Setiap anak memiliki karakteristik, kemampuan, serta kebutuhan perkembangan yang berbeda. Karena itu, pendekatan pembelajaran maupun pendampingan tidak dapat disamaratakan.
Menurutnya, guru dan tenaga pendamping harus mampu memahami kondisi masing-masing siswa agar proses pembelajaran berlangsung secara efektif, menyenangkan, dan tidak memberikan tekanan berlebihan kepada anak.
Anak Berkebutuhan Khusus Mampu Tunjukkan Prestasi
Lebih lanjut, Rasyidin Adnan menyampaikan bahwa sejumlah anak berkebutuhan khusus di SIT Darul Fikri Makassar telah menunjukkan perkembangan dan kemampuan yang membanggakan dalam berbagai bidang.
Di antaranya terdapat siswa yang mampu menghafal Al-Qur’an hingga dua juz, memiliki kemampuan desain grafis menggunakan perangkat lunak CorelDRAW, serta menunjukkan keterampilan bahasa yang baik.
Capaian tersebut menjadi salah satu gambaran bahwa anak berkebutuhan khusus memiliki potensi yang dapat berkembang apabila mendapatkan kesempatan dan pendampingan yang tepat.












