News  

Sekolah Tanpa Warna: Dari Pedalaman Kalimantan Timur Musakkir Basri Merawat Harapan Pendidikan

Samarinda, NusantaraInsight — Di tengah hutan Busang–Long Nyelong, sebuah sekolah sederhana menyimpan pelajaran yang tak selalu ditemukan dalam kurikulum. Dari tempat itulah Musakkir Basri merangkai catatan perjalanan seorang guru dalam buku Sekolah Tanpa Warna, terbitan KALIPUSTAKA.

Pendidikan kerap dipamerkan melalui angka-angka, gedung-gedung megah, ruang kelas yang nyaman, dan teknologi yang terus diperbarui. Di atas meja perumusan kebijakan, pendidikan menjelma menjadi kurikulum, nilai, akreditasi, dan laporan tahunan. Namun, jauh dari pusat kota, di antara jalan berlumpur dan rimbun hutan Kalimantan Timur, pendidikan memiliki wajah yang berbeda. Wajah anak-anak yang berangkat ke sekolah dengan segala keterbatasan, orang tua yang menggantungkan harapan pada masa depan anaknya, dan guru-guru yang memilih bertahan meski keberadaan mereka jarang menjadi perhatian.

Dari ruang kehidupan semacam itulah Sekolah Tanpa Warna menemukan pijakannya.

Buku karya Musakkir Basri yang diterbitkan oleh KALIPUSTAKA ini bukan sekadar catatan tentang sekolah di pedalaman. Ia adalah upaya merekam kehidupan pendidikan dari jarak yang dekat: dari ruang kelas berdinding kayu, lantai papan yang berderit ketika dipijak, hingga atap yang menyisakan celah saat hujan turun. Sebuah sekolah di Busang–Long Nyelong, Kalimantan Timur, yang mungkin tidak banyak dikenal, tetapi menyimpan cerita tentang manusia, harapan, dan keteguhan untuk terus belajar.

BACA JUGA:  Alumni SMANSA 82 Makassar "Serbu" Svargabumi

Di tempat yang jauh dari sorotan itu, kemegahan pendidikan tidak hadir melalui bangunan atau fasilitas. Ia tumbuh dari keberanian seorang anak untuk tetap bersekolah, dari orang tua yang bekerja tanpa mengenal lelah, dan dari guru yang tetap membuka pintu kelas setiap pagi.

Musakkir tidak datang ke pedalaman semata-mata untuk mengajar. Sebagaimana banyak guru yang memulai perjalanan dengan keyakinan bahwa dirinya akan membawa pengetahuan kepada murid-murid, ia pun memiliki harapan yang sama. Namun, waktu perlahan membalik cara pandangnya. Anak-anak di Long Nyelong justru mengajarkan kepadanya hal-hal yang tidak selalu dapat dijelaskan melalui buku pelajaran: kesabaran, ketulusan, kejujuran, dan arti bertahan di tengah keterbatasan.

Di sanalah pendidikan menemukan maknanya yang lebih manusiawi. Guru tidak lagi berdiri sebagai satu-satunya sumber pengetahuan. Ia juga seorang pembelajar yang tumbuh melalui perjumpaan dengan murid-muridnya.

Ketika Jalan Berlumpur Menjadi Bagian dari Pendidikan

Di pedalaman, perjalanan menuju sekolah bukan selalu perkara jarak. Ada jalan yang berlumpur setelah hujan, ada bus sekolah yang harus dikejar, dan ada hari-hari ketika seorang anak tidak sampai di ruang kelas karena tertinggal kendaraan. Peristiwa-peristiwa semacam itu mungkin terlihat sederhana bagi mereka yang hidup di tengah kemudahan akses. Namun, bagi anak-anak di wilayah terpencil, hal tersebut dapat menentukan apakah hari itu mereka memperoleh kesempatan belajar atau tidak.

BACA JUGA:  PGRI Bone Rebut Emas Sepak Takraw Porsenijar 2026

Kehadiran bus sekolah memang menjadi bagian penting dari upaya membuka akses pendidikan. Akan tetapi, keberadaan fasilitas saja belum selalu menjawab seluruh persoalan. Di baliknya masih ada kondisi jalan, ketepatan waktu, jarak tempuh, dan berbagai keadaan yang tidak selalu dapat dikendalikan oleh anak-anak.

Di titik ini, Sekolah Tanpa Warna mengajak pembaca melihat pendidikan dari sisi yang kerap terlewatkan. Persoalan pendidikan tidak cukup dipahami melalui kebijakan yang tertulis di atas kertas. Ia harus dibaca melalui pengalaman mereka yang menjalani pendidikan setiap hari.