News  

Sekolah Tanpa Warna: Dari Pedalaman Kalimantan Timur Musakkir Basri Merawat Harapan Pendidikan

Anak-anak pedalaman bukan tokoh pelengkap dalam cerita pembangunan. Mereka bukan pula objek yang semata-mata dihadirkan untuk membangkitkan rasa iba. Mereka adalah manusia yang memiliki hak, cita-cita, dan kemampuan untuk menentukan masa depan. Keterbatasan yang mereka hadapi tidak semestinya dijadikan alasan untuk meromantisasi penderitaan, apalagi membiarkan ketimpangan berlangsung tanpa perubahan.

Justru karena mereka memiliki hak yang sama, pendidikan di pedalaman perlu dibicarakan dengan lebih jujur. Bukan hanya tentang ketabahan anak-anak dan pengabdian guru, melainkan juga tentang tanggung jawab bersama untuk menghadirkan kesempatan belajar yang setara.

Catatan Seorang Guru, Bukan Cerita yang Menggurui

Kekuatan Sekolah Tanpa Warna terletak pada keberangkatannya dari pengalaman. Musakkir tidak berpretensi menghadirkan jawaban atas seluruh persoalan pendidikan Indonesia. Ia menempatkan tulisannya sebagai catatan kecil tentang apa yang dilihat, didengar, dirasakan, dan dipelajari selama berada di sebuah desa yang mungkin tidak pernah tercantum dalam berita utama.

Pilihan itu membuat pengalaman personal menjadi pintu masuk untuk membicarakan persoalan yang lebih luas. Sekolah sederhana di Long Nyelong tidak berdiri sebagai kisah yang terpisah dari kehidupan bangsa. Ia menjadi cermin bagi pertanyaan yang lebih mendasar: sejauh mana pendidikan benar-benar hadir bagi setiap anak, tanpa memandang tempat kelahirannya?

BACA JUGA:  Yayasan MAERO Indonesia-PT Pertamina Patra Niaga Tanam Mangrove di Sulteng

Bagi Musakkir, kritik terhadap pendidikan lahir dari kecintaan terhadap pendidikan itu sendiri. Kegelisahan bukan ditujukan untuk menyalahkan satu pihak, melainkan untuk mengingatkan bahwa masih ada pengalaman yang perlu didengar dan keadaan yang perlu diperbaiki.

Dalam pengertian itu, buku ini tidak hanya berbicara tentang sekolah sebagai institusi. Ia berbicara tentang pendidikan sebagai perjumpaan antara harapan dan kemanusiaan. Tentang guru yang memilih hadir ketika fasilitas tidak berpihak kepadanya. Tentang orang tua yang terus bekerja agar anak-anaknya dapat belajar. Dan tentang murid-murid yang tetap menyimpan keinginan untuk tumbuh, sekalipun jalan menuju sekolah tidak selalu mudah.

Dunia memang berubah tanpa permisi. Pendidikan pun terus bergerak, berganti pendekatan, kurikulum, dan kebijakan. Namun, di tengah perubahan itu, ada sesuatu yang tidak boleh kehilangan tempat: manusia yang menjadi alasan mengapa pendidikan diselenggarakan.

Merawat Harapan dari Ruang Kelas Kecil

Ada keyakinan yang terus dirawat Musakkir melalui catatan perjalanannya: perubahan besar tidak selalu bermula dari tempat yang besar. Terkadang, perubahan tumbuh diam-diam dari sebuah ruang kelas kecil di tengah hutan, dari buku yang telah lusuh, atau dari seorang guru yang tetap membuka pintu kelas meskipun kehadiran murid-muridnya tidak selalu dapat dipastikan.

BACA JUGA:  Gubernur Papua Barat Borong Tas Sepu dan Kain Tenun Toraja 

Harapan semacam itu tidak selalu datang dengan suara lantang. Ia kerap tumbuh dalam kesunyian, melalui pekerjaan-pekerjaan kecil yang dilakukan berulang kali. Seorang guru mengajar. Seorang anak mencoba memahami pelajaran. Orang tua kembali bekerja. Esok pagi, pintu sekolah dibuka lagi.

Dari peristiwa yang tampak biasa itulah pendidikan terus memperoleh alasan untuk bertahan.

Buku ini dipersembahkan kepada para guru yang mengajar jauh dari sorotan dan anak-anak yang tetap percaya bahwa pendidikan dapat mengubah masa depan. Ia juga ditujukan kepada siapa pun yang meyakini bahwa ilmu pengetahuan merupakan salah satu jalan paling sunyi sekaligus paling mulia dalam memanusiakan manusia.

Di antara dedikasi itu, Musakkir menyelipkan ungkapan terima kasih kepada istrinya, Nur ‘Ain, dan buah hatinya, Sophia Sarasvati. Keduanya menjadi terang yang menemaninya melewati waktu dan perjalanan. Ada harapan personal yang turut disematkan dalam pengabdian tersebut: semoga mereka dapat hidup lebih lama dan membangun rumah buku di Sekolah Anak Desa.