Kartini Ismail mengemukakan bahwa ibu-ibu itu bukan hanya dilibatkan dalam kegiatan tapi mesti melibatkan diri sebagai Bunda Pustaka. Katanya, ibu-ibu mesti lebih proaktif dan mengambil inisitiaf dalam meningkatkan minat baca anak dan pengembangan perpustakaan sekolah.
Menurutnya, ibu itu adalah pelita, yakni pekerja lillāhi ta’āla.
Menurut ibu yang berprofesi di bidang public speaking itu, ibulah yang mesti lebih dahulu gemar membaca supaya anaknya juga tertarik membaca. Diingatkan, jangan sampai ibu sibuk dengan medsos. Sebaiknya, ibulah yang mengalihkan perhatian anaknya dari gawai untuk lebih fokus membaca.
Kartini Ismail lalu menceritakan pengalamannya yang selalu ke toko buku atau ke lapak-lapak buku, sembari mengajak cucunya apabila sedang berulang tahun. Secara pribadi, dia mengakui betapa besar manfaat membaca yang dirasakan. Meski dia sendiri mengaku pendidikannya kurang, tapi karena dia gemar membaca, maka lewat bacaan-bacaannya itu membawa dia ke dunia yang lebih luas.
“Ibu itu merupakan perpustakaan dan madrasah pertama bagi seorang anak,” katanya memberi motivasi.
Sementara, Hj Hendriati Sabir berharap, kegiatan Bunda Pustaka ini akan memiliki ciri yang berbeda dengan Bunda Baca. Karena Bunda Baca biasa diemban oleh istri-istri pejabat, seperti istri bupati atau istri walikota, sedangkan Bunda Pustaka dari orang tua siswa. Bunda Pustaka akan jadi bagian dari pendidikan karakter, parenting, dan gerakan literasi sekolah.
Diakui bahwa kegiatan ini bagian dari upaya sekolah mempersiapkan akreditasi perpustakaan. SD Negeri Borong berupaya untuk memenuhi kriteria administratif dan juga melakukan penataan secara fisik perpustakaan sekolahnya. Selama ini, kegiatan yang dilakukan sekolahnya menggunakan pendekatan multistakeholder.
Jadi ada sinergitas antara sekolah, pendidik, peserta didik, komite sekolah, orang tua murid, serta pemerhati dan motivator anak dan lain-lain.
“Kami mau ada tampilan dan suasana baru. Bila perlu, Bunda Pustaka membuat program yang nanti jadi amal jariah bagi mereka,” jelas Hj. Hendriati Sabir, kala itu.
Kepala Perpustakaan Gerbang Ilmu, SD Negeri Borong, Saparuddin Numa, S.I.P, dalam kegiatan itu menyampaikan, akan menjadikan Bunda Pustaka sebagai program terpadu dengan Duta Baca, yang lebih dahulu diadakan. Duta Baca ini dibentuk setelah diadakan lomba bercerita saat Bulan Bahasa, pada Oktober 2020.
Lahir di Masa Pandemi Covid-19
Bunda Pustaka itu lahir di saat dunia tengah dilanda Coronavirus Disease 2019 atau biasa disingkat Covid-19. Pada masa ini, terutama di awal pandemi, dilakukan berbagai kebijakan terkait Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan berbagai kebijakan lain, yang intinya meminta masyarakat senantiasa mematuhi protokol kesehatan. Pesan yang selalu disampaikan adalah menjaga jarak (social distancing), memakai masker, dan mencuci tangan.












