Untuk memperkuat argumentasi tentang keberadaan Bunda Pustaka, saya membuatkan konsepnya dalam bentuk Term of Reference (TOR), yang akan digunakan saat sosialisasi nantinya. Kerangka acuan yang saya buat di smartphone itu saya japrikan ke Kepala SD Negeri Borong, Bu Indri, begitu biasa beliau disapa, sebagaimana biasa saya lakukan jika mengusulkan ide, gagasan, atau suatu program.
Dalam TOR itu digambarkan bahwa secara konsepsional, Bunda Pustaka berbeda dengan Bunda Baca dan Bunda PAUD. Perbedaan paling jelas yang dapat dilihat, yaitu Bunda Pustaka ‘hanyalah ibu-ibu biasa’, sedangkan Bunda Baca dan Bunda PAUD lazimnya diemban oleh istri pejabat, dalam hal ini istri gubernur atau istri walikota/bupati.
Bunda Pustaka juga lebih mudah diasosiasikan ke perpustakaan, dan punya pengertian yang lekat pada buku. Bandingkan dengan Bunda Baca, yang jika kita gunakan kata dasar “baca”, menurut KBBI V, berarti eja (huruf, tulisan, dan sebagainya). Sekalipun, baca dalam frasa Bunda Baca dimaksudkan sebagai aktivitas membaca. Sehingga, seorang Bunda Baca dengan ketokohannya, mengajak kita dan menjadi teladan, terutama bagi anak-anak, agar gemar membaca.
Begitupun dengan sebutan Bunda PAUD, yang lebih spesifik lagi punya perhatian terhadap pendidikan anak usia dini (PAUD), mereka yang berada pada usia emas (golden age).
Jadi, dapat disimpulkan, penyebutan Bunda Pustaka ini sangat relevan dengan perpustakaan dan terkoneksi langsung dengan aktivitas perpustakaan. Apalagi, pemahaman perpustakaan kini sudah berbasis inklusi sosial. Maksudnya, perpustakaan yang memfasilitasi masyarakat dalam mengembangkan potensi dirinya dengan melihat keberagaman budaya, kemauan untuk menerima perubahan, serta menawarkan kesempatan berusaha, juga melindungi dan memperjuangkan budaya dan hak asasi manusia, sesuai dengan tujuan SDGs (Sustainable Development Goals).
Di antara tujuan Pembangunan Berkelanjutan itu, yang relevan dengan Bunda Pustaka, adalah pendidikan berkualitas (quality education) dan kesetaraan gender (gender equaty).
Sosialisasi Bunda Pustaka
Setelah konsep Bunda Pustaka diterima, disepakati untuk mengadakan Sosialisasi Bunda Pustaka secara daring, pada Selasa, 6 April 2021. Pilihan daring dilakukan dengan pertimbangan selain masih dalam suasana pandemi Covid-19, juga karena relatif mudah dan murah.
Kepala sekolah, narasumber, Ibu Kartini Ismail, dan saya mengikuti kegiatan di Ruang Guru SD Negeri Borong. Ibu Kartini Ismail diundang untuk berbagi pengalaman seputar keterlibatan dirinya sebagai seorang ibu dalam peningkatan minat baca. Hadir juga dalam kegiatan sosialisasi itu Ketua Komite Sekolah SD Negeri Borong, Drs H. Marzuki.












