Begitupun dengan sebutan Bunda PAUD, yang lebih spesifik lagi punya perhatian terhadap pendidikan anak usia dini (PAUD), mereka yang berada pada usia emas (golden age).
Jadi, dapat disimpulkan, penyebutan Bunda Pustaka ini sangat relevan dengan perpustakaan dan terkoneksi langsung dengan aktivitas perpustakaan. Apalagi, pemahaman perpustakaan kini sudah berbasis inklusi sosial. Maksudnya, perpustakaan yang memfasilitasi masyarakat dalam mengembangkan potensi dirinya dengan melihat keberagaman budaya, kemauan untuk menerima perubahan, serta menawarkan kesempatan berusaha, juga melindungi dan memperjuangkan budaya dan hak asasi manusia, sesuai dengan tujuan SDGs (Sustainable Development Goals).
Di antara tujuan Pembangunan Berkelanjutan itu, yang relevan dengan Bunda Pustaka, adalah pendidikan berkualitas (quality education) dan kesetaraan gender (gender equaty).
Sosialisasi Bunda Pustaka
Setelah konsep Bunda Pustaka diterima, disepakati untuk mengadakan Sosialisasi Bunda Pustaka secara daring, pada Selasa, 6 April 2021. Pilihan daring dilakukan dengan pertimbangan selain masih dalam suasana pandemi Covid-19, juga karena relatif mudah dan murah.
Kepala sekolah, narasumber, Ibu Kartini Ismail, dan saya mengikuti kegiatan di Ruang Guru SD Negeri Borong. Ibu Kartini Ismail diundang untuk berbagi pengalaman seputar keterlibatan dirinya sebagai seorang ibu dalam peningkatan minat baca. Hadir juga dalam kegiatan sosialisasi itu Ketua Komite Sekolah SD Negeri Borong, Drs H. Marzuki.
Kartini Ismail mengemukakan bahwa ibu-ibu itu bukan hanya dilibatkan dalam kegiatan tapi mesti melibatkan diri sebagai Bunda Pustaka. Katanya, ibu-ibu mesti lebih proaktif dan mengambil inisitiaf dalam meningkatkan minat baca anak dan pengembangan perpustakaan sekolah.
Menurutnya, ibu itu adalah pelita, yakni pekerja lillāhi ta’āla.
Menurut ibu yang berprofesi di bidang public speaking itu, ibulah yang mesti lebih dahulu gemar membaca supaya anaknya juga tertarik membaca. Diingatkan, jangan sampai ibu sibuk dengan medsos. Sebaiknya, ibulah yang mengalihkan perhatian anaknya dari gawai untuk lebih fokus membaca.
Kartini Ismail lalu menceritakan pengalamannya yang selalu ke toko buku atau ke lapak-lapak buku, sembari mengajak cucunya apabila sedang berulang tahun. Secara pribadi, dia mengakui betapa besar manfaat membaca yang dirasakan. Meski dia sendiri mengaku pendidikannya kurang, tapi karena dia gemar membaca, maka lewat bacaan-bacaannya itu membawa dia ke dunia yang lebih luas.
“Ibu itu merupakan perpustakaan dan madrasah pertama bagi seorang anak,” katanya memberi motivasi.
Sementara, Hj Hendriati Sabir berharap, kegiatan Bunda Pustaka ini akan memiliki ciri yang berbeda dengan Bunda Baca. Karena Bunda Baca biasa diemban oleh istri-istri pejabat, seperti istri bupati atau istri walikota, sedangkan Bunda Pustaka dari orang tua siswa. Bunda Pustaka akan jadi bagian dari pendidikan karakter, parenting, dan gerakan literasi sekolah.
Diakui bahwa kegiatan ini bagian dari upaya sekolah mempersiapkan akreditasi perpustakaan. SD Negeri Borong berupaya untuk memenuhi kriteria administratif dan juga melakukan penataan secara fisik perpustakaan sekolahnya. Selama ini, kegiatan yang dilakukan sekolahnya menggunakan pendekatan multistakeholder.
Jadi ada sinergitas antara sekolah, pendidik, peserta didik, komite sekolah, orang tua murid, serta pemerhati dan motivator anak dan lain-lain.
“Kami mau ada tampilan dan suasana baru. Bila perlu, Bunda Pustaka membuat program yang nanti jadi amal jariah bagi mereka,” jelas Hj. Hendriati Sabir, kala itu.












