News  

Bunda Pustaka SDN Borong, Makassar, Mampu Melintasi Waktu

Ibu Relawan Baca itu merupakan salah satu strategi Dinas Perpustakaan Kota Makassar untuk membudayakan kegemaran membaca masyarakat. Dinas Perpustakaan Kota Makassar memang berkomitmen membentuk satu lagi komunitas yang berasal dari ibu-ibu. Ketua Ibu Relawan Baca Kota Makassar ini adalah Kartini Ismail, yang juga merupakan Ketua Forum Posyandu se-Kota Makassar. Kartini Ismail didampingi Cince Isuwati Iwan, sebagai Sekretaris Ibu Relawan Baca Kota Makassar. Rupanya, Ibu Kartini Ismail itulah yang saya dengar berbicara dalam pertemuan yang diadakan Dinas Perpustakaan Kota Makassar, tempo hari.

Begitu mengetahui soal Ibu Relawan Baca Kota Makassar, saya kemudian menghubungi Tulus Wulan Juni, Pustakawan Madya Dinas Perpustakaan Kota Makassar. Saya meminta nomor kontak Bu Kartini Ismail, dan langsung berkomunikasi dengan beliau.

Saya perkenalkan diri sebagai penggiat literasi yang tengah mengembangkan program di SD Negeri Borong. Saya juga mengajak beliau untuk suatu hari bikin kegiatan di SD Negeri Borong seputar aktivitas Ibu Relawan Baca Kota Makassar.

Saya memang biasa mengajak stakeholder untuk datang ke sekolah-sekolah yang jadi mitra dan dampingan saya. Saya gunakan pendekatan jejaring sebagai medium menjembatani sekolah dengan pihak-pihak yang potensial diajak kerja sama atau melakukan program bersama. Bu Kartini Ismail sangat responsif terhadap tawaran saya. Beliau bersedia kapan-kapan diajak menjadi narasumber bila ada kegiatan di SD Negeri Borong.

BACA JUGA:  AMA Makassar Gencarkan Aksi Donor Darah

Dalam suatu kesempatan ke sekolah untuk bertemu Kepala SD Negeri Borong, Dra. Hj. Hendriati Sabir, M.Pd., saya menyampaikan tentang keberadaan Ibu Relawan Baca Kota Makassar. Kami kemudian berdiskusi dan melihat peluang untuk mengadaptasi keberadaan Ibu Relawan Baca Kota Makassar.

Saya sendiri meyakini bahwa banyak ibu-ibu yang punya potensi. Ketika mereka masih muda, misalnya, banyak yang berkarier di luar rumah, aktif berorganisasi, dan punya seabrek bakat dan potensi.

Namun karena domestifikasi peran perempuan, begitu mereka menikah dan punya anak, mereka —atas pilihan sadar, misalnya alasan mengurus anak dan keluarga— memilih menjadi ibu rumah tangga (IRT). Meski begitu, banyak pula di antara ibu-ibu rumah tangga ini yang aktif di lingkungan tempat tinggalnya, bahkan sebagai Ketua Rukun Tetangga (RT) atau Ketua Rukun Warga (RW). Ini yang saya temui selama masih menjadi host acara bincang-bincang “Beranda Pak RT” di RRI Pro1 Makassar, 2016-2020.

Pemikiran itulah yang mendasari dibentuknya Bunda Pustaka. Potensi sumber daya Bunda Pustaka diidentifikasi pada keaktifan ibu-ibu paguyuban atau komite kelas, dan ibu-ibu yang biasa mengantar jemput anaknya ke sekolah, terutama ibu-ibu yang menemani anaknya mengikuti ekstrakurikuler minat bakat, yang rutin dilaksanakan setiap hari Kamis. Keberadaan Bunda Pustaka ini menjadi penting dan mendesak lantaran ada kebutuhan, yakni untuk mempercepat penguatan Perpustakaan Gerbang Ilmu yang akan mengikuti Akreditasi Perpustakaan Sekolah di tahun 2021.