Begitu mengetahui soal Ibu Relawan Baca Kota Makassar, saya kemudian menghubungi Tulus Wulan Juni, Pustakawan Madya Dinas Perpustakaan Kota Makassar. Saya meminta nomor kontak Bu Kartini Ismail, dan langsung berkomunikasi dengan beliau.
Saya perkenalkan diri sebagai penggiat literasi yang tengah mengembangkan program di SD Negeri Borong. Saya juga mengajak beliau untuk suatu hari bikin kegiatan di SD Negeri Borong seputar aktivitas Ibu Relawan Baca Kota Makassar.
Saya memang biasa mengajak stakeholder untuk datang ke sekolah-sekolah yang jadi mitra dan dampingan saya. Saya gunakan pendekatan jejaring sebagai medium menjembatani sekolah dengan pihak-pihak yang potensial diajak kerja sama atau melakukan program bersama. Bu Kartini Ismail sangat responsif terhadap tawaran saya. Beliau bersedia kapan-kapan diajak menjadi narasumber bila ada kegiatan di SD Negeri Borong.
Dalam suatu kesempatan ke sekolah untuk bertemu Kepala SD Negeri Borong, Dra. Hj. Hendriati Sabir, M.Pd., saya menyampaikan tentang keberadaan Ibu Relawan Baca Kota Makassar. Kami kemudian berdiskusi dan melihat peluang untuk mengadaptasi keberadaan Ibu Relawan Baca Kota Makassar.
Saya sendiri meyakini bahwa banyak ibu-ibu yang punya potensi. Ketika mereka masih muda, misalnya, banyak yang berkarier di luar rumah, aktif berorganisasi, dan punya seabrek bakat dan potensi.
Namun karena domestifikasi peran perempuan, begitu mereka menikah dan punya anak, mereka —atas pilihan sadar, misalnya alasan mengurus anak dan keluarga— memilih menjadi ibu rumah tangga (IRT). Meski begitu, banyak pula di antara ibu-ibu rumah tangga ini yang aktif di lingkungan tempat tinggalnya, bahkan sebagai Ketua Rukun Tetangga (RT) atau Ketua Rukun Warga (RW). Ini yang saya temui selama masih menjadi host acara bincang-bincang “Beranda Pak RT” di RRI Pro1 Makassar, 2016-2020.
Pemikiran itulah yang mendasari dibentuknya Bunda Pustaka. Potensi sumber daya Bunda Pustaka diidentifikasi pada keaktifan ibu-ibu paguyuban atau komite kelas, dan ibu-ibu yang biasa mengantar jemput anaknya ke sekolah, terutama ibu-ibu yang menemani anaknya mengikuti ekstrakurikuler minat bakat, yang rutin dilaksanakan setiap hari Kamis. Keberadaan Bunda Pustaka ini menjadi penting dan mendesak lantaran ada kebutuhan, yakni untuk mempercepat penguatan Perpustakaan Gerbang Ilmu yang akan mengikuti Akreditasi Perpustakaan Sekolah di tahun 2021.
Untuk memperkuat argumentasi tentang keberadaan Bunda Pustaka, saya membuatkan konsepnya dalam bentuk Term of Reference (TOR), yang akan digunakan saat sosialisasi nantinya. Kerangka acuan yang saya buat di smartphone itu saya japrikan ke Kepala SD Negeri Borong, Bu Indri, begitu biasa beliau disapa, sebagaimana biasa saya lakukan jika mengusulkan ide, gagasan, atau suatu program.
Dalam TOR itu digambarkan bahwa secara konsepsional, Bunda Pustaka berbeda dengan Bunda Baca dan Bunda PAUD. Perbedaan paling jelas yang dapat dilihat, yaitu Bunda Pustaka ‘hanyalah ibu-ibu biasa’, sedangkan Bunda Baca dan Bunda PAUD lazimnya diemban oleh istri pejabat, dalam hal ini istri gubernur atau istri walikota/bupati.
Bunda Pustaka juga lebih mudah diasosiasikan ke perpustakaan, dan punya pengertian yang lekat pada buku. Bandingkan dengan Bunda Baca, yang jika kita gunakan kata dasar “baca”, menurut KBBI V, berarti eja (huruf, tulisan, dan sebagainya). Sekalipun, baca dalam frasa Bunda Baca dimaksudkan sebagai aktivitas membaca. Sehingga, seorang Bunda Baca dengan ketokohannya, mengajak kita dan menjadi teladan, terutama bagi anak-anak, agar gemar membaca.












