Tim PKM-RE Unhas Hadapi MRSA dengan “Smart Bacteriophage-Liposomal”

Makassar, NusantaraInsight — Resistensi antibiotik semakin menyulitkan penanganan infeksi bakteri, termasuk Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus (MRSA) yang kerap menyebabkan infeksi kulit dan jaringan lunak (Skin and Soft Tissue Infection/SSTI). Kondisi ini mendorong Tim Program Kreativitas Mahasiswa–Riset Eksakta (PKM-RE) Universitas Hasanuddin mengembangkan inovasi terapi topikal bernama Smart Bacteriophage-Liposomal terintegrasi pH-Sensitive Hydrogel.

Inovasi ini mengombinasikan bakteriofag dan klindamisin dalam sistem pembawa liposom, lalu diintegrasikan ke dalam hidrogel sensitif pH. Tujuannya: meningkatkan efektivitas terapi pada luka kulit yang terinfeksi MRSA, terutama ketika bakteri mulai menunjukkan resistensi terhadap klindamisin.

Mengapa Inovasi Ini Diperlukan?

MRSA merupakan bakteri yang sulit ditangani karena resisten terhadap sejumlah antibiotik, termasuk metisilin; pada beberapa kasus, resistensi juga mulai muncul terhadap klindamisin. Infeksi MRSA pada kulit dapat memicu inflamasi, kerusakan jaringan, dan memperlambat proses penyembuhan luka.

Pendekatan yang hanya mengandalkan antibiotik konvensional semakin terbatas. Karena itu, strategi kombinasi—misalnya memanfaatkan bakteriofag yang secara spesifik menginfeksi bakteri target—menjadi opsi yang menarik untuk meningkatkan daya kendali terhadap infeksi.

BACA JUGA:  Ketua Panitia Porseni PGRI ke-VI Pastikan Kesiapan Penerimaan Kontingen

Apa Itu “Smart Bacteriophage-Liposomal”?

Sistem yang dikembangkan tim merupakan smart delivery system untuk aplikasi topikal pada luka. Komponen utamanya:
Bakteriofag: virus yang menginfeksi bakteri tertentu, dalam hal ini ditargetkan untuk MRSA.
Klindamisin: antibiotik yang masih relevan, tetapi efektivitasnya dapat menurun bila resistensi muncul.
Liposom: partikel pembawa obat yang membantu melindungi dan mengantarkan agen aktif ke lokasi infeksi.

pH-Sensitive Hydrogel: hidrogel yang “peka” terhadap perubahan pH lingkungan luka, sehingga dapat melepaskan muatan secara lebih terarah sesuai kondisi mikro lingkungan luka yang cenderung asam saat terinfeksi/meradang.

Dengan desain ini, sistem diharapkan dapat melepaskan bakteriofag dan klindamisin secara lebih terkendali di area luka, sekaligus mendukung kondisi penyembuhan jaringan.

Bagaimana Penelitian Dilakukan?

Penelitian menggunakan model luka pada kulit tikus yang diinduksi MRSA untuk meniru kondisi SSTI. Setelah infeksi terbentuk, masing-masing kelompok perlakuan diberikan intervensi sesuai rancangan, termasuk formulasi Smart Bacteriophage-Liposomal dalam hidrogel sensitif pH.

Efektivitas dinilai dari perkembangan infeksi dan perbaikan jaringan. Tim juga melakukan pemeriksaan histopatologi untuk mengamati perubahan struktur jaringan, seperti:
Infiltrasi sel inflamasi
Nekrosis
Re-epitelisasi
Pembentukan jaringan granulasi
Pembentukan jaringan ikat
Pada kondisi infeksi berat, gambaran histopatologi biasanya menunjukkan infiltrasi inflamasi tinggi dan nekrosis. Sementara tanda penyembuhan terlihat dari re-epitelisasi dan perbaikan struktur jaringan.

BACA JUGA:  9 Ilmuwan Unhas Masuk World’s Top 2% Scientists 2026

Siapa di Balik Inovasi Ini?

Penelitian ini dikembangkan oleh Tim PKM-RE Universitas Hasanuddin sebagai bagian dari delegasi Kampus Merah Unhas, dengan anggota:
Buyung Rachmat Toar
Muh. Aidil Arfianyah.Ar
Hilannur Minal Qurani Alam
Mustika Darwis
Zahratul Rifana Bombing
Penelitian didampingi oleh Apt. Afdil Viqar Viqhi, S.Si., M.Si. Kolaborasi mahasiswa–dosen ini menggabungkan keahlian di bidang bakteriofag, teknologi penghantaran obat, farmasi, dan terapi infeksi.

Kapan dan Di Mana Penelitian Dilaksanakan?

Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangkaian PKM-RE tahun 2026 di lingkungan Universitas Hasanuddin, Makassar. Tahapan penelitian mencakup pengembangan formulasi, karakterisasi sediaan, pengujian terhadap MRSA, aplikasi pada model luka terinfeksi, hingga evaluasi histopatologi.

Harapan Tim

Tim PKM-RE Unhas berharap inovasi ini dapat menjadi salah satu strategi baru dalam menghadapi resistensi antibiotik, khususnya pada infeksi MRSA di kulit dan jaringan lunak. Smart Bacteriophage-Liposomal terintegrasi pH-Sensitive Hydrogel dirancang bukan hanya untuk membantu mengendalikan infeksi, tetapi juga mendukung proses perbaikan jaringan yang rusak akibat infeksi.