Arwan D Awing: Jurnalis Kilat, Arsiparis Berjalan, Kini Menjadi Penyair

Oleh : Rahman Rumaday
(founder K-apel dan Kampus Lorong)

Makassar, NusantaraInsight — Saya mengenal Arwan D Awing atau akrab saya sapa Om Awing sejak tahun 2018. Kami bertemu dan sama-sama berada dalam salah satu komunitas politik, (komunitas Pilkada). Dari sanalah kemudian kami semakin akrab dan saya mulai mengenal sosok Om Awing lebih dekat.

Saya mengenalnya sebagai seorang jurnalis yang memiliki kecepatan luar biasa dalam menangkap dan menuliskan sebuah peristiwa. Bahkan dalam sehari bisa menulis hingga 100 berita. Kalau jurnalis lain masih sibuk mencari bahan, mengolah data, atau bahkan baru memikirkan judul, Om Awing sudah lebih dahulu menayangkan beritanya. Saya sering bergurau, “Media lain belum berkedip, beritanya Om Awing sudah terbit.”

br

Karena itu, saya punya satu julukan untuknya yakni “Jurnalis Kilat, Arsiparis Berjalan.” Jurnalis kilat karena kecepatannya menulis dan menyebarkan informasi hampir secepat kedipan mata. Arsiparis berjalan karena hampir apa pun yang saya tanyakan kepadanya, selalu ada jawaban, cerita, nama, peristiwa, bahkan detail yang masih tersimpan dalam ingatannya. Ia seperti perpustakaan yang berjalan-tidak perlu rak, tidak perlu katalog, tinggal ditanya, jawabannya sering kali sudah tersedia.

BACA JUGA:  Yudhistira Sukatanya Usul Diskusi Buku Sebaiknya Menampilkan Dramatic Reading

Dan hari ini, saya melihat satu sisi lain dari Om Awing yang mungkin selama ini tersembunyi di balik aktivitas jurnalistiknya yakni ia ternyata bukan hanya pandai menulis berita, tetapi juga mampu mengubah kegelisahan menjadi puisi.

Alhamdulillah, lahirlah buku CELOTEH Cinta Jurnalis dari A sampai Z. Saya bahkan pernah mengatakan kepadanya, “Om, buat maki’ buku puisi esai yaitu dengan judul “Wartawan Berpuisi.” Sebab bagi saya, buku ini memang memperlihatkan bagaimana seorang wartawan memandang dunia tidak hanya melalui fakta, tetapi juga melalui rasa.

Membaca buku ini seperti mengikuti perjalanan batin seorang jurnalis yang sedang berbicara kepada dirinya sendiri, kepada masyarakat, kepada penguasa, kepada kekasih, kepada kemanusiaan, dan pada akhirnya kepada Tuhan.

Menariknya, Om Awing membuka buku ini dengan pengakuan yang sangat sederhana yaitu “Aku bukan penyair, aku penyiar kata-kata.” Ia tidak sedang berusaha mengukuhkan dirinya sebagai penyair dengan segala kemegahan istilah sastra. Ia justru menempatkan dirinya sebagai seorang yang menyampaikan pesan melalui kata-kata.

BACA JUGA:  Mengemuka Usulan Agar Pemkab Gowa Buat Perda Tradisi dan Sastra Lisan Berbahasa Makassar

Di situlah saya melihat karakter Om Awing.

Ia tetap seorang jurnalis.

Hanya saja, medianya kali ini bukan lagi hanya sebatas berita. Medianya adalah puisi.

Berita mengejar peristiwa, sementara puisi mengejar makna.

br
br