Makassar, NusantaraInsight — Badan Perfilman Indonesia (BPI) bersama Gabungan Pengusaha Bioskop Seluruh Indonesia (GPBSI) menggelar pertemuan silaturahmi dengan produser, sutradara, dan komunitas film di Makassar untuk membahas peluang, tantangan, dan potensi pengembangan industri film di Sulawesi Selatan, Senin (31/8/2026).
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya BPI mendengar langsung kebutuhan pelaku lokal dan memperkuat ekosistem perfilman di daerah.
Ketua perwakilan BPI, dalam sambutannya, menyatakan bahwa pertumbuhan industri film Makassar selama satu dekade terakhir menunjukkan potensi besar yang perlu didorong secara berkelanjutan.
“Kami ingin memahami kendala yang dihadapi pelaku lokal, baik dalam produksi maupun distribusi, agar program yang dirancang benar-benar menjawab kebutuhan di lapangan,” kata ketua BPI.
Pertemuan yang dihadiri puluhan pelaku industri lokal itu membahas sejumlah isu utama, antara lain akses terhadap fasilitas produksi, pembiayaan, kapasitas distribusi lokal, serta kesempatan pemutaran karya di bioskop dan festival.
Para peserta berbagi pengalaman terkait hambatan dalam mendistribusikan film lokal serta strategi untuk menjangkau audiens yang lebih luas di tingkat regional dan nasional.
Salah satu poin penting yang dibahas adalah penguatan kapasitas melalui program strategi distribusi festival film untuk komunitas.
Menurut perwakilan GPBSI, kemitraan antara pelaku bioskop dan komunitas film diperlukan untuk membuka jalur pemutaran alternatif dan meningkatkan visibilitas karya-karya lokal.
“Bioskop tidak hanya ruang komersial; dengan pengaturan dan dukungan program yang tepat, bioskop juga dapat menjadi panggung penting bagi film komunitas dan independen,” ujar perwakilan GPBSI.
Dalam pertemuan tersebut juga dibahas rencana pengembangan cerita dan produksi film pendek yang direncanakan berlangsung pada 2026.
Program ini ditujukan untuk meningkatkan kapasitas penulisan naskah, teknik produksi, dan manajemen distribusi untuk pembuat film muda dan komunitas. Pejabat BPI menjelaskan bahwa program film pendek akan memfasilitasi lokakarya, mentoring, dan peluang penayangan di festival lokal maupun nasional.
Para sutradara dan produser lokal menyambut positif inisiatif tersebut. Seorang sutradara Makassar mengatakan bahwa keberlanjutan dukungan, terutama dalam bentuk pelatihan teknis dan akses jaringan distribusi, menjadi kunci untuk mendorong kualitas dan kuantitas produksi lokal.
Sementara itu, perwakilan komunitas film Atnan Nonci menekankan pentingnya pendekatan yang inklusif sehingga pelaku di luar pusat kota juga memperoleh manfaat.

br
br






br





