Sementara “Hoaks di Olympus” terasa sangat dekat dengan dunia yang selama ini digeluti Om Awing sebagai wartawan. Berita yang berlari, kabar yang diciptakan, dan pentingnya memastikan kebenaran menemukan pijakannya pada pesan untuk meneliti berita sebelum mempercayainya.
Yang membuat buku ini semakin menarik adalah keberaniannya bergerak dari satu ruang ke ruang lain. Dari cinta menuju kritik sosial. Dari politik menuju kemanusiaan. Dari kegelisahan menuju spiritualitas.
Pada akhirnya, kata-kata itu pulang kepada Tuhan.
“Zikir Masa” menutup perjalanan tersebut dengan rangkaian nama dan zikir kepada-Nya-sebuah pengingat bahwa sejauh apa pun seorang manusia berjalan dalam hiruk-pikuk dunia, ada satu tempat di mana semua kata akhirnya harus kembali: kepada Sang Pemilik Kata.
Karena itu, bagi saya, CELOTEH Cinta Jurnalis dari A sampai Z bukan sebatas buku puisi.
Ia adalah catatan perjalanan seorang wartawan yang sedang berdamai dengan kata-kata.
Kalau selama ini Om Awing dikenal sebagai jurnalis yang mampu membuat berita secepat kedipan mata, maka melalui buku ini ia membuktikan bahwa setelah berita selesai ditulis, masih ada sesuatu yang lebih dalam yang perlu dicatat yakni rasa.
Dan mungkin, di situlah makna “Wartawan Berpuisi” yang pernah saya ucapkan kepadanya.
Selamat atas lahirnya buku ini, Om Awing.
Teruslah menulis.
Teruslah mencatat.
Teruslah bersuara.
Sebab seorang jurnalis mungkin bisa berhenti membuat berita, tetapi seorang pencatat zaman tidak pernah benar-benar berhenti menulis.
Selamat atas lahirnya CELOTEH Cinta Jurnalis dari A sampai Z.
Semoga buku ini menjadi arsip rasa, rekaman zaman, dan jejak kata yang kelak dibaca oleh generasi setelah kita.
Salam literasi.
Salam jurnalisme.
Salam kata-kata.
Makassar, Agustus 2026












