Arwan D Awing: Jurnalis Kilat, Arsiparis Berjalan, Kini Menjadi Penyair

Berita mencatat apa yang terjadi, sementara puisi bertanya mengapa semua itu terjadi.

Dan dalam buku ini, keduanya bertemu.

br

Ada keresahan sosial dalam “Apatis”, ada kritik terhadap kekuasaan dalam “Firaun dalam Kemasan Plastik”, ada kegelisahan terhadap hoaks dalam “Hoaks di Olympus”, ada renungan tentang kemanusiaan dalam “COVID! Jangan Ambil Umi-ku”, ada tragedi kemanusiaan Palestina dalam “Di Bawah Tank Merkava”, ada romantisme dalam “Guratan Kasmaran di Hati Gersang” dan “Qamariah”, hingga perjalanan spiritual yang bermuara pada “Zikir Masa”.

Itulah sebabnya saya tidak membaca buku ini hanya sebagai kumpulan puisi cinta.

Ini adalah kumpulan keresahan seorang jurnalis yang sedang belajar menyampaikan cinta melalui kata-kata.

Cinta kepada manusia.
Cinta kepada kebenaran.
Cinta kepada keadilan.
Cinta kepada kehidupan.

Dan akhirnya, cinta kepada Tuhan.

Puisi “COVID! Jangan Ambil Umi-ku”, misalnya, bukan sebatas cerita tentang kehilangan. Di sana kita menemukan benturan antara protokol, keluarga, duka, dan kemanusiaan. Kalimat tentang protokol yang dibuat untuk menyelamatkan, bukan untuk menghukum, memperlihatkan bahwa puisi dalam buku ini juga menjadi ruang refleksi sosial.

BACA JUGA:  Penerus Jejak Leluhur

Sementara “Hoaks di Olympus” terasa sangat dekat dengan dunia yang selama ini digeluti Om Awing sebagai wartawan. Berita yang berlari, kabar yang diciptakan, dan pentingnya memastikan kebenaran menemukan pijakannya pada pesan untuk meneliti berita sebelum mempercayainya.

Yang membuat buku ini semakin menarik adalah keberaniannya bergerak dari satu ruang ke ruang lain. Dari cinta menuju kritik sosial. Dari politik menuju kemanusiaan. Dari kegelisahan menuju spiritualitas.

Pada akhirnya, kata-kata itu pulang kepada Tuhan.

“Zikir Masa” menutup perjalanan tersebut dengan rangkaian nama dan zikir kepada-Nya-sebuah pengingat bahwa sejauh apa pun seorang manusia berjalan dalam hiruk-pikuk dunia, ada satu tempat di mana semua kata akhirnya harus kembali: kepada Sang Pemilik Kata.

Karena itu, bagi saya, CELOTEH Cinta Jurnalis dari A sampai Z bukan sebatas buku puisi.

Ia adalah catatan perjalanan seorang wartawan yang sedang berdamai dengan kata-kata.

Kalau selama ini Om Awing dikenal sebagai jurnalis yang mampu membuat berita secepat kedipan mata, maka melalui buku ini ia membuktikan bahwa setelah berita selesai ditulis, masih ada sesuatu yang lebih dalam yang perlu dicatat yakni rasa.

BACA JUGA:  Hafidz Muksin: Festival Sastra Kepulauan Bisa Libatkan Pelajar Asing

Dan mungkin, di situlah makna “Wartawan Berpuisi” yang pernah saya ucapkan kepadanya.

Selamat atas lahirnya buku ini, Om Awing.

br
br