IN MEMORIAM SYAHRIAR TATO: MENGABADI MELALUI LAKON DAN KARYANYA

Syahriar tato
Alm. Syahriar Tato (tengah) berbaju hitam.

Oleh: Fadli Andi Natsif (Wakil Koordinator Satu Pena Sulawesi Selatan)

Makassar, NusantaraInsight — Di suatu waktu ketika itu di Gedung Fajar Graha Pena Makassar, saya lagi sementara mengajar di Pasca-sarjana Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Fajar (Unifa). Di saat menjelang jam perkuliahan akan berakhir dan sebentar lagi akan berkumandang azan magrib, muncul seorang lelaki usia sekitar paruh baya. Bergaya parlente tampil modis terbilang unik dengan ciri khasnya memakai kaca mata bulat dan kepala plontos.

Bersamaan mata saya tertuju di pintu keluar ruangan melihat sosok lelaki itu yang kebetulan saya kenal dan juga melihat saya sembari melemparkan senyumnya yang familiar. Beliau satu institusi atau homebase mengajar dengan saya di Universitas 45 (sekarang Unibos), ketika itu. Spontan saya menyapa dan sembari berbenah menutup laptop saya, mengatakan, “tunggu Pa Doktor, ini sudah selesai mengajar.” Itu saya katakan karena dipikiran saya beliau akan masuk mengajar di jam berikutnya.

Dengan senyum tersipu, menjawab, “maaf Pa Doktor, terlambat, saya mahasiswa ta mau masuk kuliah.” Seketika dengan mimik muka keheranan tidak segera merespon tetapi menyambangi mengulurkan tangan saya ingin menyalami serta mulut sedikit menganga hanya mengeluarkan kata, “oh…,” Kemudian terkesan basa basi, saya hanya mengatakan, “nanti minggu depan kita diskusi.” Tidak sanggup terucap kata yang biasa saya lontarkan kalau ada mahasiswa yang terlambat mengikuti perkuliahan, bilang, “minggu depan jangan lagi terlambat yah?”

BACA JUGA:  Mahasiswa KKNT Unhas Buat Inovasi Sederhana untuk Pengelolaan Sampah Organik dan Konservasi Air di Desa Otting

Itulah yang terbayang di memori ingatan saya plus menginspirasi menulis in memoriam ini atas berpulangnya Dr. Syahriar Tato. Keheranan saya ketika itu saat beliau bilang mahasiswa yang mengambil mata kuliah terkait Hukum Media yang saya ampuh di Pasca-sarjana Unifa. Oleh karena Saya tahu betul beliau sudah banyak menyandang gelar — berdasarkan info kurang lebih 10 gelar. Sehingga tidak menyangka ikut kuliah lagi untuk meraih gelar Magister Komunikasi.

Sosok beliau bukan hanya dikenal karena banyaknya gelar, tetapi rekam jejaknya melintasi berbagai profesi. Sebagai birokrat, tercatat mantan Plt Kadis Tata Ruang dan Pemukiman Sulawesi Selatan. Di dunia pendidikan dikenal sebagai dosen atau akademisi di berbagai perguruan tinggi, bahkan pernah menjadi rektor di Institut Kesenian Makassar (IKM). Di dunia hiburan, dikenal sebagai aktor baik di layar lebar mau pun di televisi. Beberapa peran yang dilakoni yang genre film nya benuansa lokal, seperti film Silariang dan Sunset di Pantai Losari.