Oleh Andi Wanua Tangke
Sudah lama saya merindukan Kota Thaif. Bukan karena kesejukannya yang mirip Malino di Sulawesi Selatan itu. Bukan karena buah-buahnya yang manis itu. Bukan karena parfum-parfumnya yang memikat penciuman itu. Bukan karena lokasinya yang kini dipenuhi bangunan vila milik orang-orang Arab berduit itu.
Saya merindukannya karena saya mendapat kabar: di kota kecil itu dihuni gadis-gadis cantik. Teramat cantik. Melebihi cantiknya gadis Madinah dan gadis Makkah. Benarkah?
Di emperan toko di Madinah, di balik tembok kuno, saya sempat melihat wajah gadis kota itu. Cantiknya luar biasa. Sungguh memesona. Di tempat wudhu di Masjid Al Haram, saya juga sempat memandang dari jauh seorang gadis Makkah sedang membuka kerudung hitamnya. Terlihat jelas wajahnya. “Duh… Betapa cantiknya perempuan itu.” Terucap dalam gumam saya. Ya, tentu, dalam gumam. Saya lalu membayangkan tentang keyakinan orang-orang yang pernah ke Kota Thaif: gadis-gadisnya melebihi kecantikan gadis Madinah dan gadis Makkah, yang sempat saya saksikan kecantikannya yang dahsyat itu.
Kerinduan yang bergemuruh dalam dada saya akhirnya terjawab. Lewat kebaikan seorang ustaz, panggilan ke Kota Thaif memanggil-manggil saya. Jarak dari Kota Makkah ke Kota Thaif sekitar 100 km. Kami memilih naik bus ke kota itu. Sekitar satu jam perjalanan, kami pun sampai. Pak Ustaz mengajak saya ke sebuah pusat pembuatan dan penjualan parfum. Setelah itu kami memilih duduk-duduk di gazebo dekat gunung tak berpohon sambil menikmati teh susu. Teh itu sungguh gurih. Terasa ada bubuk-bubuk halusnya yang berserak di lidah.
Saya tak tahan lagi untuk tidak memandang gadis-gadis Kota Thaif yang katanya kecantikannya melebihi kecantikannya gadis-gadis di semua kota yang ada di Tanah Arab.
“Cantik memang. Mata saya tak berkedip meliriknya. Apakah karena pengaruh dingin kota ini. Banyak buah-buahnya. Sumber prafum terharum ada di kota ini. Sehingga gadis-gadis Kota Thaif memancarkan aura wajah sempurna?” Saya berbisik kepada ustaz yang duduk di samping saya.
Ustaz itu tersenyum. Memandang dan mendekat ke saya. Dia pun berbicara dengan rendah. Hampir berbisik. “Meski cantik, tapi lelaki dari kota-kota di Arab sangat mempertimbangkan menikahi gadis-gadis Kota Thaif.”
“Ada apa mereka mempertimbangkan?” Saya balik bertanya. Penasaran.
“Kota ini ada sejarah kelamnya.”
“Maksudnya, kelam bagaimana?”
Ustaz itu terdiam. Tertunduk. Seperti mengingat-ingat sebuah peristiwa sejarah. “Ketika Rasulullah Muhammad SAW meninggalkan Kota Makkah menuju Kota Thaif untuk menyebarkan Agama Islam kepada penduduk Thaif, terjadilah malapetaka itu.”












