SORAYA: MENIKAHKAN PENGALAMAN, PEMIKIRAN, DAN KEHIDUPAN

Oleh : Prof. Dr. Sukardi Weda, S.S., M.Hum., M.Pd., M.Si., M.M., M.Sos.I., M.AP.
(Guru Besar Universitas Negeri Makassar)

Makassar, NusantaraInsight — Ada buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhirnya ditutup. Tetapi ada pula buku yang justru mulai bekerja setelah halaman terakhirnya selesai dibaca. Ia tidak sekadar meninggalkan cerita, melainkan meninggalkan pertanyaan. Ia tidak hanya menawarkan pengetahuan, tetapi mengajak pembacanya bercermin: sesungguhnya, untuk apa kita hidup, apa yang kita kejar, dan kapan seseorang dapat disebut kaya?

Buku Ngaji Sugih karya Hj. Soraya menurut saya termasuk buku yang kedua.

Judulnya saja sudah mengundang kita untuk berhenti sejenak. Ngaji Sugih—dua kata, tetapi mengandung sebuah dunia pemikiran yang luas. Ngaji lazim kita pahami sebagai proses belajar agama, membaca, memahami, dan mendekat kepada Allah. Sementara sugih berarti kaya. Lalu, apakah menjadi kaya harus dimulai dengan mengumpulkan harta? Ataukah justru kekayaan yang paling hakiki dimulai dari kemampuan manusia mengenali makna hidup, mensyukuri pemberian Allah, dan menemukan ketenteraman di dalam dirinya?

BACA JUGA:  Buku Ngaji Sugih : Adakah Bahagia Tertinggi, Lalu... Syukur dan Sabar?

Di sinilah buku ini menemukan pintu masuknya.

Dalam perspektif Islam, rezeki memang merupakan wilayah ketetapan Allah. Al-Qur’an mengingatkan bahwa Allah melapangkan dan membatasi rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki. Tetapi manusia tidak pernah diperintahkan untuk duduk menunggu takdir. Manusia diperintahkan untuk bergerak, berikhtiar, berdoa, lalu menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah.

Karena itu, saya membaca Ngaji Sugih bukan semata-mata sebagai buku motivasi, melainkan sebagai ajakan untuk melakukan pengajian terhadap kehidupan itu sendiri.

Sebab hidup adalah madrasah. Kegagalan adalah gurunya. Kesabaran adalah pelajarannya. Ikhtiar adalah jalannya. Doa adalah percakapannya dengan Tuhan. Sedangkan syukur adalah cara manusia menyadari bahwa apa yang dimilikinya tidak pernah benar-benar datang hanya karena kekuatannya sendiri.

Allah berfirman dalam QS. At-Talaq ayat 3 bahwa siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.

Kata “mencukupkan” dalam ayat ini bagi saya sangat menarik. Sebab kecukupan tidak selalu berarti memiliki lebih banyak. Kadang-kadang kecukupan justru berarti hati tidak lagi merasa kekurangan meskipun kehidupan belum sepenuhnya sempurna.

BACA JUGA:  Catatan Sastra Diskusi Buku 'Ombak Laut': PUISI SEBAGAI GELOMBANG PERJALANAN

Ada kecukupan jiwa berupa ketenangan.

Ada kecukupan hati berupa rasa syukur.

Ada kecukupan rezeki berupa hadirnya pertolongan dari arah yang tidak pernah kita duga.

Dan ada kecukupan dalam menghadapi kehidupan ketika seseorang sampai pada kesadaran bahwa tidak semua hal harus berada dalam kendalinya.

Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW mengingatkan bahwa kekayaan yang sejati bukanlah semata-mata banyaknya harta, melainkan kekayaan jiwa.

Maka, Ngaji Sugih sesungguhnya sedang mengajak kita mengoreksi definisi tentang kaya.

Kita boleh mengejar kekayaan. Kita boleh bekerja keras. Kita boleh memiliki cita-cita besar. Kita boleh membangun usaha, mengejar jabatan, menempuh pendidikan setinggi-tingginya, bahkan berusaha mencapai prestasi yang mungkin dianggap mustahil oleh orang lain. Tetapi semua itu akan kehilangan makna apabila hati kita tetap miskin.

Miskin syukur.

Miskin ketenangan.

Miskin empati.

Miskin kemampuan memaafkan.

Dan miskin kesadaran bahwa seluruh pencapaian pada akhirnya akan kita tinggalkan.

Karena itu saya menyukai gagasan yang terasa kuat dalam buku ini: kekayaan sejati tidak selalu berbentuk angka atau nominal, tetapi dapat berbentuk ketenteraman hati yang lapang.

BACA JUGA:  Rekreasi Sastra di Pantai Biru: MENCARI KEDALAMAN PUISI

IKHTIAR ADALAH BENTUK CINTA KEPADA TAKDIR

Salah satu gagasan yang menurut saya penting dari buku ini adalah cara memandang ikhtiar.