Oleh: Rahman Rumaday (Guru Mengaji Lorong)
Makassar, NusantaraInsight — Ada orang yang rumahnya besar, tetapi hatinya sempit. Ada yang rekeningnya penuh, tetapi hidupnya terasa kosong. Ada yang tidak memiliki banyak harta, tetapi kehadirannya selalu membuat orang lain merasa cukup.
Lalu, di manakah sebenarnya letak kekayaan?
Pertanyaan itulah yang tiba-tiba terasa hadir di sebuah ruang Masamba 5 Hotel Aryaduta Makassar. Sabtu, 22/8/2026, ketika buku Ngaji Sugih karya Hj. Soraya, SH., MH., C.Ht., N.NLP diluncurkan.
Bukan sebatas peluncuran buku.
Bukan sebatas pertemuan para tokoh.
Tetapi seperti sebuah jeda. Sebuah ruang untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan, lalu menengok ke dalam diri sendiri.
Sebab selama ini kita terlalu sering diajarkan bagaimana menjadi kaya, tetapi barangkali kita jarang diajarkan bagaimana menjadi orang yang kaya.
Kaya harta belum tentu kaya jiwa.
Kaya ilmu belum tentu kaya hati.
Kaya jabatan belum tentu kaya manfaat.
Dan bisa jadi, seseorang yang sederhana di mata dunia justru sedang menyimpan kekayaan yang tidak mampu dibeli dengan uang.
Yang menarik dari peluncuran Ngaji Sugih di Makassar adalah siapa saja yang hadir dan duduk dalam satu percakapan.
Ada Prof. Dr. Mardi Adi Armin, M.Hum., Guru Besar Filsafat Bahasa Universitas Hasanuddin Makassar.
Ada Prof. Dr. Sukardi Weda, S.S., M.Hum., M.Pd., M.Si., M.M., M.Sos.I., M.A.P., Guru Besar Bidang Bahasa Universitas Negeri Makassar.
Ada Drs. Muhammad Amir Jaya, Ketua Umum DPP Ikatan Penulis Muslim Indonesia (IPMI).
Saya sendiri (Rahman Rumaday), seorang guru mengaji lorong.
Empat pembicara dari latar belakang yang berbeda.
Tetapi justru di situlah saya melihat sesuatu yang menarik.
Ilmu ternyata tidak mengenal sekat.
Guru besar dan guru mengaji lorong dapat duduk dalam satu majelis karena keduanya memahami satu hal yakni bahwa ilmu akan kehilangan maknanya apabila hanya berhenti di kepala.
Ilmu harus turun ke hati.
Lalu bergerak menjadi tindakan.
Guru besar mengajarkan dari ruang akademik.
Guru mengaji lorong mengajarkan dari ruang kehidupan.
Yang satu mungkin berhadapan dengan buku-buku dan teori.
Yang satu lagi berhadapan dengan anak-anak lorong, ibu-ibu dengan papan tulis sederhana, dengan suara ayat-ayat suci yang dilafalkan perlahan.
Tetapi keduanya sedang melakukan pekerjaan yang sama yaitu
menyalakan cahaya.
Bukankah manusia pada akhirnya memang hanya membutuhkan cahaya?
Cahaya ilmu.
Cahaya iman.
Cahaya kasih sayang.
Cahaya yang membuat kita mampu melihat mana jalan yang harus ditempuh dan mana jalan yang harus ditinggalkan.


