Mulai dari Guru Besar Hingga Guru Mengaji Lorong Membicarakan Buku Ngaji Sugih di Makassar 

Ada ungkapan yang begitu sederhana tetapi dalam bahwa

“Kekayaan bukanlah banyaknya harta, melainkan kekayaan jiwa.”

Ungkapan itu seperti menemukan maknanya sendiri dalam perjumpaan Ngaji Sugih.

Dan perjumpaan itu ternyata tidak hanya diisi oleh akademisi.

Hadir pula unsur Dinas Perpustakaan Kota Makassar, para akademisi, pengusaha seperti Heny Suhaeny, Asrul Sani Abu, Susi, Fira, dan Risnawati Anwas, para wartawan, serta tokoh-tokoh literasi Sulawesi Selatan.

Ada Yudhistira Sukatanya, Zahir Juana Ridwan, M. Rusdy Embas, Syahril Dg. Nassa, Andi Ruhban, Andi Marliah, dan A. Nazri.

Hadir pula Rektor Universitas Syekh Yusuf Al Makassari Gowa, Dr. Sennahati, S.Sos., M.I.Kom.

Bahkan sejumlah ketua RT turut hadir.

Di sinilah saya melihat sesuatu yang lebih besar daripada sebatas acara peluncuran buku.

Buku sedang mempertemukan manusia.

Yang datang bukan hanya membawa nama dan jabatan.

Mereka datang membawa pengalaman.

Membawa kegelisahan.

Membawa harapan.

Membawa cerita masing-masing tentang kehidupan.

Dan sebuah buku menjadi titik temu.

Bukankah memang seharusnya demikian sebuah buku dilahirkan?

BACA JUGA:  Catatan Sastra Diskusi Buku 'Ombak Laut': PUISI SEBAGAI GELOMBANG PERJALANAN

Bukan untuk dipajang.

Bukan sebatas untuk memenuhi rak.

Tetapi untuk dibaca, dipikirkan, diperdebatkan, direnungkan, lalu diam-diam mengubah cara kita menjalani kehidupan.

Saya selalu percaya bahwa kekayaan yang paling mahal adalah kesempatan untuk menjadi manfaat.

Karena pada akhirnya, semua yang kita kumpulkan akan kita tinggalkan.

Rumah akan dihuni orang lain.

Kursi jabatan akan diduduki orang lain.

Harta akan berpindah tangan.

Nama perlahan akan dilupakan.

Tetapi kebaikan memiliki umur yang berbeda.

Ia dapat hidup jauh setelah kita tiada.

Ia tinggal dalam doa orang yang pernah kita bantu.

Ia tumbuh dalam ilmu yang pernah kita ajarkan.

Ia bersemi dalam hati orang yang pernah kita kuatkan.

Mungkin itulah mengapa perjumpaan Ngaji Sugih di Makassar terasa lebih dari sebatas peluncuran sebuah buku.

Ia seperti sebuah cermin.

Kita semua dipersilakan melihat diri sendiri.

Lalu bertanya:

“Jika hari ini Tuhan mencabut semua yang saya miliki, apa yang masih tersisa dari diri saya?”

Pertanyaan itu mungkin terasa sederhana.

BACA JUGA:  Rekreasi Sastra di Pantai Biru: MENCARI KEDALAMAN PUISI

Tetapi justru pertanyaan semacam itulah yang kadang membuat kita terdiam lama.

Sebab bisa jadi selama ini kita sibuk menghitung apa yang kita punya, tetapi lupa menghitung apa yang kita beri.

Kita sibuk mengejar kekayaan, tetapi lupa bertanya untuk apa kekayaan itu.

Kita sibuk ingin menjadi seseorang, tetapi lupa menjadi manusia.

Maka Ngaji Sugih bukan hanya tentang bagaimana menjadi kaya.

Ia seperti sebuah ajakan untuk mengaji ulang makna kekayaan.

Bahwa kaya bukan sebatas memiliki.

Kaya adalah mampu berbagi.

Kaya bukan sebatas mendapatkan.

Kaya adalah mampu memberi.

Kaya bukan sebatas dikenal.

Kaya adalah ketika kehadiran kita dirasakan.

Dan mungkin, kaya yang paling tinggi adalah ketika hati kita tidak lagi sibuk bertanya:

“Apa yang akan saya dapatkan?”

Tetapi mulai bertanya:

“Apa yang bisa saya berikan?”

Maka disitulah Itulah kekayaan berubah menjadi ibadah.

Harta berubah menjadi manfaat.

Ilmu berubah menjadi cahaya.

Dan kehidupan berubah menjadi ladang amal.

Sebab pada akhirnya, kita tidak akan dikenang karena seberapa banyak yang pernah kita miliki, tetapi karena seberapa banyak kebaikan yang pernah kita tinggalkan.

BACA JUGA:  Catatan Sastra Diskusi Buku 'Ngaji Sugih' : TRANSFORMASI SPIRITUAL

Maka hari itu, di Makassar, sebuah buku diluncurkan.

Tetapi sesungguhnya yang sedang diluncurkan bukan hanya sebuah buku.

Yang sedang diluncurkan adalah sebuah pertanyaan kepada kita semua:

Sudahkah kita kaya dengan sebenar-benarnya kaya?