Acara diskusi buku itu dipandu oleh Arwan D. Awing, S.E., jurnalis, yang membawa diskusi mengalir dari halaman-halaman buku menuju persoalan kehidupan yang jauh lebih luas.
Apa arti kaya?
Apakah kaya hanya ketika kita memiliki banyak?
Ataukah kaya justru ketika kita mampu merasa cukup?
Di tengah dunia yang terus berkata “kurang, kurang, kurang”, Ngaji Sugih seperti mengajak kita mendengar suara lain:
“Cukup.”
Cukup bukan berarti berhenti berusaha.
Cukup bukan berarti menyerah.
Cukup adalah kemampuan hati untuk menikmati apa yang telah Tuhan titipkan, tanpa berhenti berikhtiar untuk menjadi lebih baik.
Sebab manusia bisa memiliki rumah yang besar tetapi tidak menemukan rumah di dalam hatinya.
Manusia bisa memiliki banyak teman tetapi tidak menemukan satu pun tempat untuk mencurahkan kesedihannya.
Manusia bisa dikenal banyak orang tetapi tidak mengenal dirinya sendiri.
Maka kekayaan yang sesungguhnya mungkin bukan tentang berapa banyak yang masuk ke dalam genggaman, melainkan berapa banyak yang keluar dari genggaman kita untuk memberi manfaat kepada orang lain.
Ada ungkapan yang begitu sederhana tetapi dalam bahwa
“Kekayaan bukanlah banyaknya harta, melainkan kekayaan jiwa.”
Ungkapan itu seperti menemukan maknanya sendiri dalam perjumpaan Ngaji Sugih.
Dan perjumpaan itu ternyata tidak hanya diisi oleh akademisi.
Hadir pula unsur Dinas Perpustakaan Kota Makassar, para akademisi, pengusaha seperti Heny Suhaeny, Asrul Sani Abu, Susi, Fira, dan Risnawati Anwas, para wartawan, serta tokoh-tokoh literasi Sulawesi Selatan.
Ada Yudhistira Sukatanya, Zahir Juana Ridwan, M. Rusdy Embas, Syahril Dg. Nassa, Andi Ruhban, Andi Marliah, dan A. Nazri.
Hadir pula Rektor Universitas Syekh Yusuf Al Makassari Gowa, Dr. Sennahati, S.Sos., M.I.Kom.
Bahkan sejumlah ketua RT turut hadir.
Di sinilah saya melihat sesuatu yang lebih besar daripada sebatas acara peluncuran buku.
Buku sedang mempertemukan manusia.
Yang datang bukan hanya membawa nama dan jabatan.
Mereka datang membawa pengalaman.
Membawa kegelisahan.
Membawa harapan.
Membawa cerita masing-masing tentang kehidupan.
Dan sebuah buku menjadi titik temu.
Bukankah memang seharusnya demikian sebuah buku dilahirkan?
Bukan untuk dipajang.
Bukan sebatas untuk memenuhi rak.
Tetapi untuk dibaca, dipikirkan, diperdebatkan, direnungkan, lalu diam-diam mengubah cara kita menjalani kehidupan.
Saya selalu percaya bahwa kekayaan yang paling mahal adalah kesempatan untuk menjadi manfaat.
Karena pada akhirnya, semua yang kita kumpulkan akan kita tinggalkan.
Rumah akan dihuni orang lain.


