Kursi jabatan akan diduduki orang lain.
Harta akan berpindah tangan.
Nama perlahan akan dilupakan.
Tetapi kebaikan memiliki umur yang berbeda.
Ia dapat hidup jauh setelah kita tiada.
Ia tinggal dalam doa orang yang pernah kita bantu.
Ia tumbuh dalam ilmu yang pernah kita ajarkan.
Ia bersemi dalam hati orang yang pernah kita kuatkan.
Mungkin itulah mengapa perjumpaan Ngaji Sugih di Makassar terasa lebih dari sebatas peluncuran sebuah buku.
Ia seperti sebuah cermin.
Kita semua dipersilakan melihat diri sendiri.
Lalu bertanya:
“Jika hari ini Tuhan mencabut semua yang saya miliki, apa yang masih tersisa dari diri saya?”
Pertanyaan itu mungkin terasa sederhana.
Tetapi justru pertanyaan semacam itulah yang kadang membuat kita terdiam lama.
Sebab bisa jadi selama ini kita sibuk menghitung apa yang kita punya, tetapi lupa menghitung apa yang kita beri.
Kita sibuk mengejar kekayaan, tetapi lupa bertanya untuk apa kekayaan itu.
Kita sibuk ingin menjadi seseorang, tetapi lupa menjadi manusia.
Maka Ngaji Sugih bukan hanya tentang bagaimana menjadi kaya.
Ia seperti sebuah ajakan untuk mengaji ulang makna kekayaan.
Bahwa kaya bukan sebatas memiliki.
Kaya adalah mampu berbagi.
Kaya bukan sebatas mendapatkan.
Kaya adalah mampu memberi.
Kaya bukan sebatas dikenal.
Kaya adalah ketika kehadiran kita dirasakan.
Dan mungkin, kaya yang paling tinggi adalah ketika hati kita tidak lagi sibuk bertanya:
“Apa yang akan saya dapatkan?”
Tetapi mulai bertanya:
“Apa yang bisa saya berikan?”
Maka disitulah Itulah kekayaan berubah menjadi ibadah.
Harta berubah menjadi manfaat.
Ilmu berubah menjadi cahaya.
Dan kehidupan berubah menjadi ladang amal.
Sebab pada akhirnya, kita tidak akan dikenang karena seberapa banyak yang pernah kita miliki, tetapi karena seberapa banyak kebaikan yang pernah kita tinggalkan.
Maka hari itu, di Makassar, sebuah buku diluncurkan.
Tetapi sesungguhnya yang sedang diluncurkan bukan hanya sebuah buku.
Yang sedang diluncurkan adalah sebuah pertanyaan kepada kita semua:
Sudahkah kita kaya dengan sebenar-benarnya kaya?


