Riwayat, Sebuah Ikhtiar Platform Budaya Inklusif yang Adil Sejak Ide

_Oleh: Rusdin Tompo (Koordinator SATUPENA Sulawesi Selatan)_

“Historical capital (modal sejarah) membuat suatu negara memiliki daya pengaruh jauh melampaui ukuran materialnya.”

Makassar, NusantaraInsight — Saya menukil tulisan Yudi Latif, berjudul Indonesia dan Modal Sejarah yang Tercampakkan (diposting di akun IG yudilatif_official, 8 Juli 2026), sebagai pembuka materi dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) Pengembangan Ide Konten Website. FGD untuk Program Riwayat ini, merupakan sebuah inisiatif platform inklusif.

br

Kalimat yang penuh reflektif itu, hendak mengingatkan kita bahwa betapa kaya sejarah dan budaya Indonesia. Namun tidak dikonversi menjadi kekuatan yang punya daya pengaruh terhadap diplomasi bangsa secara global. Bahkan sejarah panjang Nusantara dan keragaman budayanya, belum dikelola secara optimal sebagai nilai jual dengan segala keunikan dan daya tariknya.

Secara statistik, Indonesia punya 17.000 pulau, 1.300 suku bangsa, dan sekira 700 bahasa daerah. Wajar bila negara yang membentang dari Aceh hingga Papua, dari Miangas hingga Rote ini digambarkan bagai ratna mutu manikam di khatulistiwa.

Itulah mengapa secara cerdas dan visioner para bapak bangsa menggunakan Bhinneka Tunggal Ika, semboyan yang melambangkan kesatuan Negara Republik Indonesia, yang diambil dari kakawin Sutasoma karangan Mpu Tantular, pada abad ke-14. Semboyan ini menjadi konsensus nasional, tercetak pada pita yang dicengkeram kokoh pada lambang negara kita, Garuda Pancasila.

*Daur Kreatif Inklusif*

FGD yang mendapat dukungan dari Kementerian Kebudayaan RI lewat Program Dana Indonesiana ini, merupakan kelanjutan dari Workshop Co-Creation Inklusif, yang diadakan pada April 2026 lalu. Daeng Maliq merupakan penanggung jawab programnya, di mana saya juga hadir sebagai salah seorang pemateri dalam workshop tersebut.

Daeng Maliq mengembangkan Program Riwayat–sebuah platform budaya yang mendorong penyandang ragam disabilitas terlibat aktif dalam produksi konten sejarah dan budaya. Lelaki bernama asli Ridwan Mappa, yang merupakan Kepala Pustakabilitas PerDIK, itu menggunakan pendekatan co-creation inklusif dalam mengeksekusi programnya.

Bagi Daeng Maliq, co-creation bukan sekadar istilah teknis, melainkan kolaborasi aktif dan setara antara pemangku kepentingan untuk bersama-sama menciptakan nilai, ide, dan produk baru. Program Riwayat yang mencakup Risalah, Warisan, dan Hikayat, berangkat dari sikap kritisnya mencermati kendala yang dihadapi kalangan penyandang ragam disabilitas.

Menurutnya, kebanyakan informasi yang tersedia, belum sepenuhnya ramah dan inklusif. Padahal, katanya, mengenal sejarah dan budaya bukan hanya soal pengetahuan tetapi tentang identitas, rasa memiliki, dan kepercayaan diri sebagai bagian dari masyarakat.

brbr
BACA JUGA:  JANGAN MENCARI ALASAN DAN HIDUP TAK BUTUH KAMBING HITAM
brbr
br