Ide bisa diperoleh saat jalan-jalan, menonton pertunjukan, berdiskusi, membaca, atau dari medsos dan platform digital lain. Butuh observasi dan riset guna mematangkan gagasan awal tersebut. Tak ada salahnya bila kita melakukan adaptasi terhadap apa yang mau kita buat–istilahnya ATM (amati, tiru, modifikasi).
Kita bertindak sebagai kurator, selama proses kreatif dan produksi. Dibutuhkan kerja tim untuk saling mengkomunikasikan apa yang hendak diwujudkan dalam imajinasinya. Sebab, tidak semua orang punya pengalaman, pengetahuan, dan keterampilan yang sama.
Saya menceritakan pengalaman ketika masih jadi reporter radio. Saya sampaikan, karena tidak punya kompetensi teknis dalam bidang produksi maka saya terbuka pada apa yang ada dalam pikiran saya ketika berada di studio. Nanti, hasil kreasi dan produksi dalam bentuk teks, audio, video atau gabungan dari semunya, perlu juga dievalusi bersama.
Dalam kegiatan FGD yang dipandu Ekhy, sebagai moderator, dengan Juru Bahasa Isyarat (JBI), Yuni dan Fahriko, itu saya sampaikan bahwa ada empat prinsip utama dalam membuat konten yang inklusif. Pertama, bisa diakses (perseptible), maksudnya semua orang dapat menangkap informasinya. Jadi, konten berupa gambar, video, dan ikon harus punya deskripsi. Juga ada subtitle dan bahasa isyarat.
Kedua, bisa digunakan (operable). Dengan begitu, website bisa dipakai tanpa ribet. Misalnya diganggu oleh iklan pop-up, juga animasi yang muncul dan merusak kenyamanan.
Ketiga, bisa dipahami (understandable), yakni bahasa dan alurnya mudah diikuti. Bahasa yang sederhana, struktur yang jelas, dan ada pola tertentu. Saya teringat jurnalisme radio, soal menulis untuk telinga, untuk menghadirkan theatre of mind.
Pesannya, bahwa jangan menyimpulkan tetapi menggambarkan. Misalnya, kita tak perlu bilang bajunya bagus, tetapi gambarkan saja warna bajunya, modelnya, motifnya, dan orang yang mengenakannya. Tantangannya, bagaimana membangun visualisasi atau gambar dalam imajinasi dengan memaksimalkan penggunaan kata-kata deskriptif, intonasi vokal, efek suara, dan latar musik agar audiens seolah mengalami langsung peristiwa tersebut.
Keempat, bisa dinikmati (robust and inclusion), di mana konten yang dibuat bukan hanya dapat diakses, tetapi related dengan pembaca, pendengar, penonton, atau khalayak yang jadi segmentasi konten kita.
Perlu dicatat, konten yang ditayangkan atau dipublikasikan berupa teks, audio, video, dan infografis, dibuka akses interaktif agar bisa mendapat umpan balik. Lagi-lagi perlu diingatkan, agar memperhatikan penggunaan bahasa yang jelas, sederhana dan mudah dipahami.
*Variasi Rubrikasi*
Sesungguhnya, konten sejarah dan budaya terkait Sulawesi Selatan begitu luas dan beragam. Secara garis besar, sebagai kreator dan pengelola website, kita bisa mengembangkan rubrik sejarah, adat dan budaya, kesenian, kuliner, bahasa dan aksara, wisata budaya, tokoh sejarawan, seniman, dan budayawan, serta galeri dan arsip.
Rubrik dan konten sejarah, bisa berupa bahasan kerajaan-kerajaan (Kerajaan Gowa-Tallo, Kerajaan Bone, Kerajaan Luwu, dan lain-lain). Bisa juga tentang tokoh-tokoh sejarah (Sultan Hasanuddin, Syekh Yusuf, Andi Djemma, Colliq Pujie, dan sebagainya). Peristiwa-peristiwa penting bisa pula jadi rubrik website, seperti Perang Makassar, Peristiwa Westerling yang menelan korban 40.000 jiwa, dan lain sebagainya. Terkait arkeologi dan situs-situs bersejarah juga potensial digarap. Misalnya, Benteng Somba Opu, Gua Leang Karampuang, dan lain-lain.
Rubrik adat dan budaya juga sangat bervariasi bisa ditampilkan. Bisa menyangkut upacara adat (tradisi aklammang, panaik-panaung, rambu solok, dan lain-lain), bisa juga tentang busana adat (baju bodo, baju lakbu, passapu, songkok guru/songkok tubone, dan lain-lain), atau terkait rumah adat (balla rate, bola soba, tongkonan, dan lain-lain). Pada bagian ini, masuk pula falsafah hidup dan kearifan lokal, seperti sipakatau, sipakalabbiri/sipakalebbi, sipakainga/sipakainge, macca na malempu, warani na magetteng, dan sebagainya).












