Karena itu, kolaborator program Riwayat ini terdiri dari teman disabilitas netra, disabilitas Tuli, disabilitas fisik, disabilitas intelektual, dan disabilitas psikososial.
Pentingnya informasi yang aksesibel ini mengingatkan saya pada kalimat terkenal dari Pramoedya Ananta Toer dalam Bumi Manusia (Hasta Mitra, 1980): “Seorang terpelajar harus sudah adil sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan.”
Maka tepat apabila ide mesti dieskplorasi berdasarkan pengalaman mereka yang terlibat dalam pengembangan Program Riwayat ini. Ide itu bisa berasal dari pengalaman saat pelesiran ke situs bersejarah, atau pengalaman menjalani tradisi dan praktik budaya tertentu. Banyak aspek yang bisa diungkap dan diceritakan sesuai point of view (PoV) masing-masing.
Ide bisa diperoleh saat jalan-jalan, menonton pertunjukan, berdiskusi, membaca, atau dari medsos dan platform digital lain. Butuh observasi dan riset guna mematangkan gagasan awal tersebut. Tak ada salahnya bila kita melakukan adaptasi terhadap apa yang mau kita buat–istilahnya ATM (amati, tiru, modifikasi).
Kita bertindak sebagai kurator, selama proses kreatif dan produksi. Dibutuhkan kerja tim untuk saling mengkomunikasikan apa yang hendak diwujudkan dalam imajinasinya. Sebab, tidak semua orang punya pengalaman, pengetahuan, dan keterampilan yang sama.
Saya menceritakan pengalaman ketika masih jadi reporter radio. Saya sampaikan, karena tidak punya kompetensi teknis dalam bidang produksi maka saya terbuka pada apa yang ada dalam pikiran saya ketika berada di studio. Nanti, hasil kreasi dan produksi dalam bentuk teks, audio, video atau gabungan dari semunya, perlu juga dievalusi bersama.
Dalam kegiatan FGD yang dipandu Ekhy, sebagai moderator, dengan Juru Bahasa Isyarat (JBI), Yuni dan Fahriko, itu saya sampaikan bahwa ada empat prinsip utama dalam membuat konten yang inklusif. Pertama, bisa diakses (perseptible), maksudnya semua orang dapat menangkap informasinya. Jadi, konten berupa gambar, video, dan ikon harus punya deskripsi. Juga ada subtitle dan bahasa isyarat.
Kedua, bisa digunakan (operable). Dengan begitu, website bisa dipakai tanpa ribet. Misalnya diganggu oleh iklan pop-up, juga animasi yang muncul dan merusak kenyamanan.
Ketiga, bisa dipahami (understandable), yakni bahasa dan alurnya mudah diikuti. Bahasa yang sederhana, struktur yang jelas, dan ada pola tertentu. Saya teringat jurnalisme radio, soal menulis untuk telinga, untuk menghadirkan theatre of mind.
Pesannya, bahwa jangan menyimpulkan tetapi menggambarkan. Misalnya, kita tak perlu bilang bajunya bagus, tetapi gambarkan saja warna bajunya, modelnya, motifnya, dan orang yang mengenakannya. Tantangannya, bagaimana membangun visualisasi atau gambar dalam imajinasi dengan memaksimalkan penggunaan kata-kata deskriptif, intonasi vokal, efek suara, dan latar musik agar audiens seolah mengalami langsung peristiwa tersebut.


br
br
br






br
br






br