Keempat, bisa dinikmati (robust and inclusion), di mana konten yang dibuat bukan hanya dapat diakses, tetapi related dengan pembaca, pendengar, penonton, atau khalayak yang jadi segmentasi konten kita.
Perlu dicatat, konten yang ditayangkan atau dipublikasikan berupa teks, audio, video, dan infografis, dibuka akses interaktif agar bisa mendapat umpan balik. Lagi-lagi perlu diingatkan, agar memperhatikan penggunaan bahasa yang jelas, sederhana dan mudah dipahami.
*Variasi Rubrikasi*
Sesungguhnya, konten sejarah dan budaya terkait Sulawesi Selatan begitu luas dan beragam. Secara garis besar, sebagai kreator dan pengelola website, kita bisa mengembangkan rubrik sejarah, adat dan budaya, kesenian, kuliner, bahasa dan aksara, wisata budaya, tokoh sejarawan, seniman, dan budayawan, serta galeri dan arsip.
Rubrik dan konten sejarah, bisa berupa bahasan kerajaan-kerajaan (Kerajaan Gowa-Tallo, Kerajaan Bone, Kerajaan Luwu, dan lain-lain). Bisa juga tentang tokoh-tokoh sejarah (Sultan Hasanuddin, Syekh Yusuf, Andi Djemma, Colliq Pujie, dan sebagainya). Peristiwa-peristiwa penting bisa pula jadi rubrik website, seperti Perang Makassar, Peristiwa Westerling yang menelan korban 40.000 jiwa, dan lain sebagainya. Terkait arkeologi dan situs-situs bersejarah juga potensial digarap. Misalnya, Benteng Somba Opu, Gua Leang Karampuang, dan lain-lain.
Rubrik adat dan budaya juga sangat bervariasi bisa ditampilkan. Bisa menyangkut upacara adat (tradisi aklammang, panaik-panaung, rambu solok, dan lain-lain), bisa juga tentang busana adat (baju bodo, baju lakbu, passapu, songkok guru/songkok tubone, dan lain-lain), atau terkait rumah adat (balla rate, bola soba, tongkonan, dan lain-lain). Pada bagian ini, masuk pula falsafah hidup dan kearifan lokal, seperti sipakatau, sipakalabbiri/sipakalebbi, sipakainga/sipakainge, macca na malempu, warani na magetteng, dan sebagainya).
Pada rubrik kesenian, bisa dieksplor konten tentang tari-tarian (Tari Paddupa, Tari Pajaga, Tari Pakarena, dan lain-lain), juga konten musik dan alat musik (kesok-kesok, pui-pui, ganrang, dan lain-lain). Bisa seni sastra, seperti Sureq La Galigo, Royong, Kelong, dan lain sebagainya. Bisa pula berupa seni rupa dan kerajinan, seperti seni ukir Toraja, tenun sutra Wajo, ragam hias Makassar, dan kerajinan gerabah Takalar, dan sebagainya.
Untuk rubrik atau konten kuliner, juga tak kalah beragam. Ada makanan khas (coto Makassar, Pallubasa, konro, pakleko, dangkot, dan lain-lain), jajanan/kue tradisional (jalangkote, taripang, barongko, dan lain-lain), minuman (sarakba, es pallu butung, es pisang ijo, es teler, dan lain-lain), serta resep dan filosofi makanan (umba-umba, kelapa, gula merah, rampea golla naku rampeki kaluku. Kepada peserta FGD saya sampaikan, pernah ada akun yang membahas gastronomi menyebutkan bahwa kita kekurangan resep masakan/makanan walau konten kuliner di medsos begitu banyak.


br
br
br






br
br






br