Balla Barakkaka ri Galesong, Pustaka, dan Pusaka Syekh Yusuf

Prof. Dr. H. Aminuddin Salle Karaeng Patoto, pendiri Balla Barakkaka ri Galesong
Prof. Dr. H. Aminuddin Salle Karaeng Patoto, pendiri Balla Barakkaka ri Galesong

Oleh: Rusdin Tompo (Koordinator SATUPENA Sulawesi Selatan)

_”Rampea golla, naku rampeki kaluku”._

Takalar, NusantaraInsight — Ada prosesi penyambutan yang sarat makna filosofis, yang dilakukan Prof. Dr. H. Aminuddin Salle, SH, MH, Karaeng Patoto, pada setiap tamunya yang berkunjung di Balla Barakkaka ri Galesong (BBrG). Secara simbolik, pendiri Kampung Adat, Budaya, dan Konstitusi BBrG, menjamu tamu kehormatannya dengan umba-umba (onde-onde atau klepon). Bahkan beliau sendiri yang mengambil umba-umba dari bosara yang sudah disediakan, lalu disuapkan ke tamunya, dengan mengucapkan basmalah.

“Umba-umba ini simbol dari hidup bahagia dan sejahtera. Ini kue khas Makassar. Pada saat masih mentah dan dimasukkan ke dalam air mendidih, dia tenggelam. Begitu matang, dia akan muncul ke atas, disebut akmumbai. Siapapun yang datang, apakah dia seorang menteri, panglima, Duta Besar, Ketua MK, kami upayakan suguhkan umba-umba. Ini dimakan, tidak boleh disentuh. Jadi bayangkan, dari tanganku …. Kita sama-sama berdoa, semoga senantiasa hidup tenang, bahagia, sejahtera, salewangang. Bismillah,” kata Prof. Aminuddin Salle Karaeng Patoto.

BACA JUGA:  Destinasi Budaya Makassar "Balla Barakka" Galesong

Kami, satu-satu maju mendekat, lalu disuap umba-umba oleh Karaeng Patoto, yang pada tanggal 2 Juli 2026, genap berusia 78 tahun.

Prof. Hamdar Arraiyyah, Prof. Kembong Daeng, Yudhistira Sukatanya dan istrinya, Dewi Ritayana, mendapat giliran pertama, disusul Syahril Rani Daeng Nassa dan M. Amir Jaya. Saya juga diminta maju untuk disuapi umba-umba. Prosesi ini disaksikan istri dan anak Karaeng Patoto, Hj. Suryana Daeng Memang, dan Dr. Buyung Romadhoni, yang juga merupakan Kepala Sekolah Adat, Budaya, dan Konstitusi BBrG. Hadir di atas Balla Barakka—yang merupakan bangunan utama—Abdul Jalil Mattewakkang, penggiat budaya dan literasi, serta Muh. Hijaz Daeng Temba, salah seorang keturunan Syekh Yusuf Tuanta Salamaka al-Makassari.

Bangun Masjid Al-Amin

Selama berada di BBrG, kami banyak mendengar cerita Karaeng Patoto tentang upayanya menghadirkan sebuah perubahan tanpa perlu grasah-grusuh. Sebagai dosen dan pakar hukum adat, beliau paham metode mendekati masyarakat dengan nilai budaya dan kearifan lokal Makassar. Dalam bahasa agama, beliau melakukan dakwah bil hal, sekaligus dakwah bil lisan, dengan memberi contoh langsung melalui perbuatan dan tindakan, bukan sekadar berteori.

BACA JUGA:  Menularkan Spirit Menulis di SMPN 6 Polongbangkeng Utara Takalar

Kesan ini saya tangkap, setelah mendengar kisah sejarah pembangunan Masjid Al-Amin, yang berada di sisi selatan Balla Barakka. Katanya, tanah masjid yang ditempati, tadinya bukan termasuk miliknya. Kondisinya masih berupa rawa-rawa, dan sangat kotor, ketika dibeli. Ada juga palontang (tempat minum ballok atau tuak) di situ. Kemudian beliau bangunkan masjid di atas tanah tersebut.

“Suatu ketika, di antara mereka yang punya tanah bertengkar, memperebutkan tanah warisan orangtuanya. Ketika saya dengar, saya panggil. Saya bilang, bagaimana kalau saya beli ini tanah, lalu kalian bagi-bagi. Berhenti maki bertengkar. Alhamdulillah, sekarang ada masjid, sebagai penanda dan pengingat,” cerita Karaeng Patoto.

Ketika membagikan kisah pendirian masjidnya, beliau menyelipkan sebuah dialog yang penuh makna. Bahkan kalimatnya diulang pelan-pelan, agar kami mencamkannya. Bahwa ada konsekuensi dari setiap kebijakan dan sikap tegas yang diambil, termasuk bila itu dilakukan penguasa.

_“Nasabak punna ballomo nilakleang, tenamo tubarani. Napunna kabotorangamo nitongkok, tenamo sima. Punna akjinamo nipassalese, tena maki antu akkoasa.”_

BACA JUGA:  MENANTI TAJI PEMERINTAH BASMI PORNOGRAFI

Beliau mengapresiasi semangat orang-orang yang dengan murah hati dan tulus berdonasi. Kebaikan yang ditunjukkan oleh berbagai pihak sedemikian besar, dalam pembangunan masjid.