Menonton Piala Dunia di Kampung  

Bima, NusantaraInsight — Pada tanggal 11 Juni 2026, sehari menjelang Piala Dunia 2026 digelar, saya terbang ke Bima mengantar ayah yang datang ke Makassar sejak 18 Mei 2026 mengontrol matanya yang dioperasi Maret 2025. Setelah dua hari membersamai ayah (98 tahun) Ibu yang sudah tidak kuat lagi (96), pada tanggal 13 Juni 2026 saya terbang kembali ke Makassar.

Rabu (17/6/2026), dalam perjalanan pulang dari rapat Pengurus PWI Sulsel menuju rumah di Antang yang memakan waktu 2 jam karena macet habis pada seluruh jalur jalan yang dilalui, tiba-tiba masuk telepon dari adik H.Sofwan, S.H.,M.Hum yang sudah ada di Bima.

“Nanti Aji besok (18/6/2026) terbang ke Bima, Umi menyusul Sabtu (20/6/2026). Takut keadaan Umi agak serius,” kata adik ke-3 saya ini lewat telepon di tengah saya terjebak macet parah di Jl.Hertasning Timur menjelang Jl. Tun Abd.Razak, Gowa.

Saya pun terbang Kamis. Saat dijemput adik, terjadi sedikit insiden. Adik yang oleh para pengemudi taksi bandara dikenal sebagai pengemudi grab, diprotes. Mereka berdalih, adik menjemput penumpang di Bandara Sultan Muhammad Salahuddin yang menjadi bagian taksi bandara.

BACA JUGA:  Mobil Eks Wali Kota dan WMD  

“Saya masuk menjemput kakak sendiri dan tidak menggunakan aplikasi grab,” adik menjelaskan.

Saya juga kaget karena baru kali ini mereka protes. Padahal, setiap saya terbang adik selalu menjemput. Adu mulut terjadi. Sampai minta KTP segala. Saat melihat identitas KTP orang tua saya berbeda dengan adik, mereka kian galak memprotes.

“Lo. Ini ayahnya dan alamatnya berbeda,” kata mereka ngotot.

“Tidak mungkin sama alamat. Saya tinggal di Makassar, adik di Bima,” saya menjelaskan.

“Nama saya ini Ahmad Muslim tanpa nama orang tua, kakak menggunakan nama orang tua,” adik berusaha menjelaskan.

Saya sempat memperlihatkan kartu wartawan utama dengan harapan mereka berubah sikap. Ternyata tidak.

“Wah, ini bagus diberitakan,” kata saya.

“Silakan diberitakan saja,” katanya polos dan itu bodoh.

Tanpa dia minta, saya tetap menulis di media sosial sebelum memberitakannya di koran atau media online.

Saya hanya merasa kasihan juga dengan tantangannya itu. Mereka lupa membayangkan bagaimana informasi ini menyebar di media sosial dan dampaknya bagi para penumpang yang tiba di Bandara Sultan Muhammad Salahuddin Bima terhadap armada transportasi yang ada. Media sosial bisa mengubah sesuatu dalam waktu satu detik. Bisa saja, para penumpang yang tiba lebih memilih menelepon teman atau keluarganya untuk menjemput, alih-alih menggunakan taksi bandara dengn tarif mencekik. Masa’ jara 5 km dibanderol Rp 150.000. Yang ke Kota Bima biasa dipasangi tarif nRp 250.000. Padahal rajaknya 16,1 km. Itu pun pada jalur bebas macet.

BACA JUGA:  Yuni Amirta Nadila: Anak Desa, Atlet Kabaddi Nasional

Malam hari saya menulis pengalaman ini di akun whatsapp dan mengunggahnya di berbagai grup WA Bima. Pagi hari tiba-tiba masuk telepon dari keluarga yang bertugas di Bandara Sultan Muhammad Salahuddin.

“Mengapa Uak tidak menghubungi saya,” katanya setelah mendengar catatan saya yang mendapat tanggapan dari berbagai pihak.

“Saya kira masih di Labuan Bajo,” jawab saya.

“Ya, sudah pindah kembali ke Bima,” ujarnya, kemudian saya menambahkan, nantilah.

Salah seorang pengguna akun media sosial menyampaikan pengalaman ini hendaknya menjadi catatan bagi Koperasi Taksi Bandara untuk melakukan perbaikan dan memberikan pelayanan yang santun kepada pengguna jasa transportasi. Bahkan, Koperasi Bandara harus menetapkan regulasi yang jelas.

“Kalembo ade ta. Kapaja sara,” (Sabar, banyak sabar),” kata salah seorang pengguna media sosial yang lainnya dalam bahasa Mbojo (bahasa Bima).

Prihatin

Saya kembali ke Bima penuh dengan perasaan prihatin karena membesuk Ibu yang baru lima hari ditinggalkan. Ibu semakin lemah dan sudah tidak mau makan sama sekali. Yang masuk hanya cairan infus.