Menonton Piala Dunia di Kampung  

Malam hari saya menulis pengalaman ini di akun whatsapp dan mengunggahnya di berbagai grup WA Bima. Pagi hari tiba-tiba masuk telepon dari keluarga yang bertugas di Bandara Sultan Muhammad Salahuddin.

“Mengapa Uak tidak menghubungi saya,” katanya setelah mendengar catatan saya yang mendapat tanggapan dari berbagai pihak.

“Saya kira masih di Labuan Bajo,” jawab saya.

“Ya, sudah pindah kembali ke Bima,” ujarnya, kemudian saya menambahkan, nantilah.

Salah seorang pengguna akun media sosial menyampaikan pengalaman ini hendaknya menjadi catatan bagi Koperasi Taksi Bandara untuk melakukan perbaikan dan memberikan pelayanan yang santun kepada pengguna jasa transportasi. Bahkan, Koperasi Bandara harus menetapkan regulasi yang jelas.

“Kalembo ade ta. Kapaja sara,” (Sabar, banyak sabar),” kata salah seorang pengguna media sosial yang lainnya dalam bahasa Mbojo (bahasa Bima).

Prihatin

Saya kembali ke Bima penuh dengan perasaan prihatin karena membesuk Ibu yang baru lima hari ditinggalkan. Ibu semakin lemah dan sudah tidak mau makan sama sekali. Yang masuk hanya cairan infus.

BACA JUGA:  Catatan Tercecer dari Piala Dunia U-17 Austria, Perjalanan Mulus nan Kandas

Malam pertama di rumah, kami yang enam orang anaknya, tidur mengelilingi ibu yang terbaring kaku. Dua adik perempuan saya, berbaring di kiri-kanan ibu. Seorang adik saya yang perempuan yang berdomisili di Palu, baru terbang dengan istri saya, Sabtu (20/6/2026) ini.

Keadaan ibu memang agak memprihatinkan, karena sudah tidak ada makanan yang mau diterimanya masuk ke mulutnya. Bahkan cairan pun sudah jarang dia terima melalui mulut, kecuali cairan infus.

Sambil menjagai ibu yang terbaring, saya tetap menulis berita. Kebetulan adik perempuan yang seorang guru nyambi berbisnis. Salah satu di antara jenis bisnisnya adalah menjual vocer WiFi. Harganya murah, Rp 5.000 per 24 jam. Sejak tiba di kampung 18 Juni 2026 malam hingga malam ini, saya sudah menghabiskan empat vocer untuk laptop dan gawai. Bahkan, toples plastik yang berisi potongan kertas vocer yang biasa adik simpan di kedainya, karena Ibu yang semula tidur di kedai dipindahkan ke rumah panggung, diletakkan di meja tempat saya mengetik setiap malam. Dan masih dalam status ‘camidu’ (catat mi dulu). Ha..ha..

BACA JUGA:  Negosiasi, Harga Mati, dan Presisi (6): (Kisah Operasi Kepolisian Menyelamatkan Penculikan Bocah Asal Makassar)

Jumat (19/6/2026) pagi sekitar pukul 09.00 Wita berlangsung pertandingan sepak bola Piala Dunia Grup A antara tuan rumah Maksiko berhadapan dengan Korea Selatan. Saya sempat tidur pagi dua jam karena pada malam hari kurang tidur karena kedinginan dan mengakibatkan saya sering ke kamar kecil buang air kecil. Ternyata saat saya tidur, dua adik saya yang termasuk gila bola pergi menonton ke rumah tetangga, sekitar 100m di sebelah selatan rumah orang tua.