Malam pertama di rumah, kami yang enam orang anaknya, tidur mengelilingi ibu yang terbaring kaku. Dua adik perempuan saya, berbaring di kiri-kanan ibu. Seorang adik saya yang perempuan yang berdomisili di Palu, baru terbang dengan istri saya, Sabtu (20/6/2026) ini.
Keadaan ibu memang agak memprihatinkan, karena sudah tidak ada makanan yang mau diterimanya masuk ke mulutnya. Bahkan cairan pun sudah jarang dia terima melalui mulut, kecuali cairan infus.
Sambil menjagai ibu yang terbaring, saya tetap menulis berita. Kebetulan adik perempuan yang seorang guru nyambi berbisnis. Salah satu di antara jenis bisnisnya adalah menjual vocer WiFi. Harganya murah, Rp 5.000 per 24 jam. Sejak tiba di kampung 18 Juni 2026 malam hingga malam ini, saya sudah menghabiskan empat vocer untuk laptop dan gawai. Bahkan, toples plastik yang berisi potongan kertas vocer yang biasa adik simpan di kedainya, karena Ibu yang semula tidur di kedai dipindahkan ke rumah panggung, diletakkan di meja tempat saya mengetik setiap malam. Dan masih dalam status ‘camidu’ (catat mi dulu). Ha..ha..
Jumat (19/6/2026) pagi sekitar pukul 09.00 Wita berlangsung pertandingan sepak bola Piala Dunia Grup A antara tuan rumah Maksiko berhadapan dengan Korea Selatan. Saya sempat tidur pagi dua jam karena pada malam hari kurang tidur karena kedinginan dan mengakibatkan saya sering ke kamar kecil buang air kecil. Ternyata saat saya tidur, dua adik saya yang termasuk gila bola pergi menonton ke rumah tetangga, sekitar 100m di sebelah selatan rumah orang tua.
Saya pun pergi mencari tempat keduanya menonton. Anak-anak menunjuk rumah tempat keduanya menonton. Lantaran saya tidak kenal nama siapa pemilik rumah, saya sampai di ujung desa, sekitar 200m jaraknya dari rumah orang tua.
Mereka yang ada di ujung desa itu memberi tahu, mungkin keduanya lagi menonton di kediaman mantan Kepala Desa Kanca di dekat lapangan bola. Ke sana saya mengayunkan langkah. Tidak terdengar suara orang menonton bola saat saya berjalan di dekat rumah yang dimaksud.
Saya terus berjalan hingga memotong lapangan bola. Terus menyusuri gang dan turun kembali ke jalan desa yang sudah tersiram aspal dan tiba kembali di depan rumah.
Capek berjalan sejauh sekitar 600-700m, saya mampir di kedai di depan kedai adik yang sedang tutup. Pada penjual, saya kembali bertanya lokasi kedua adik menonton. Saya mulai berjalan lagi ke arah selatan. Pada ibu-ibu yang menjual di kedai sayur saya bertanya lagi. Soalnya, saya tidak kenal pemilik rumah. Lalu ditunjuk ke rumah yang kebetulan sedang dua orang ibu muncul di depan rumahnya.
Saya pun dipersilakan masuk. Rupanya tempat kedua adik saya itu menonton di lantai bawah. Saya yang dari tempat yang terang, memasuki ruang tanpa lampu, jelas gelap. Tidak melihat apa-apa, sebelum dituntun menuruni tangga sederhana.
“Bahaya juga kalau saya salah langkah, bisa jatuh,” saya membatin.
Ternyata penonton dua bersaudara ini menghadap ke layar TV ukuran sekitar 40 inci yang menempel di dinding dalam keadaan berbaring. Tuan rumahnya duduk. Saya langsung dipersilakan menempati lokasi yang kosong di bagian ujung kiri.
“Ternyata di sini ada pendukung Meksiko,” kata adik saya yang berdomisili di Mataram memberi tahu kalau tuan rumah berbeda jagoan dengan tamu penonton yang lebih menjagokan Korea Selatan.
Adik yang di Mataram ini ternyata lebih banyak terlelap saat pertandingan berlangsung. Untung saja gol sudah tercipta melalui pemain tuan rumah Meksiko L.Romo pada menit ke-50.
Begitulah hari-hari ke depan, saya akan menonton pertandingan Piala Dunia tidak sesering jika di rumah di Makassar. Hasil pertandingan kemudian dikemas dalam bentuk berita saya setelah menengok hasil di google yang selalu setiap meng-update hasil pertandingan. (*).












