Catatan M.Dahlan Abubakar
Makassar, NusantaraInsight — Mestinya Spanyol membuat Cape Verde (Tanjung Verde) babak belur dalam pertandingan perdana Grup H pada tanggal 15 Juni 2026 dini hari di Stadion Atlanta, Georgia. Gempuran Spanyol yang mendominasi 62% jalannya pertandingan memang mengepung kotak 16 pertahanan Tanjung Verde secara bergelombang. Delapan kali tembakan akurat dan terarah pemain Spanyol menyasar gawang Tanjung Verde yang dikawal Zovinha. Namun apa yang terjadi, tidak satu pun bola dengan intensitas tendangan yang penuh tenaga itu, hanya lumpuh di tangan Zovinha.
Satu tendangan yang menurut pandangan penonton seharusnya terkonversi menjadi gol, yakni saat si kulit bundar akan melesat beberapa sentimeter di bawah mistar gawang. Apa yang terjadi, Zovinha secara refleks mampu menepis bola yang meluncur bagai peluru itu lewat di atas mistar. Gol gagal. Dahsyat dan luar biasa.
Delapan penyelamatan gemilang yang sangat mengagumkan itu, tidak heran mengantar Zovinha terpilih sebagai “the best player of the match” pada dinihari itu. Kiper berusia 40 tahun ini benar-benar telah menjadi pahlawan bagi timnya dari kekalahan. Tidak heran di kubu Spanyol wajah-wajah sendu dan kecewa yang luar biasa meninggalkan lapangan stadion berkapasitas 75.000 penonton itu. Karena tim yang mereka anggap anak bawang tersebut ternyata tidak mudah ditaklukkan, meskipun mereka menguasai pertandingan secara signifikan.
Saya menyaksikan pertandingan yang berakhir menjelang subuh waktu Indonesia Tengah itu. Saya hanya ingin memastikan, berapa gol Spanyol sarangkan ke jala Tanjung Verde. Namun dugaan saya ternyata semua meleset. Tanjung Verde ternyata tidak seasing namanya dalam hajat sepak bola dunia. Negara kecil berpendudukan sekitar 500 ribu jiwa ini datang membuat sejarah, meskipun mungkin mereka akan tumbang juga atas tim-tim favorit yang sudah mengukir nama dari Piala Dunia ke Piala Dunia.
Begitu peluit akhir berbunyi di Stadion Atlanta yang diresmikan pada tahun 2017 dan dan disesaki sekitar 50.000 pasang mata itu, kamera bergeser ke sang bintang subuh itu. Siapa lagi kalau bukan kiper Tanjung Verde, Vozinha. Titik-titik bening menyungai pada wajah pemain yang boleh terbilang ‘gaek’ ini. Itu wajar saja, timnya berhasil bermain imbang 0-0 melawan tim yang digadang-gadang sebagai favorit juara Piala Dunia, Spanyol, tahun 2026 ini.
Tribun stadion bergemuruh oleh teriakan ribuan pendukung Tanjung Verde, yang tiada henti menyemangati tim mereka tanpa henti lelah selama 90 menit pertandingan yang berlangsung dalam tensi yang boleh disebut tidak seimbang itu. Layar kaca menawarkan pemandangan, betapa tidak seimbangnya pertandingan ini. Tim yang pernah jadi kampiun Piala Dunia dan Piala Eropa terus menghajar tim pendatang baru dari Benua Afrika.













