Pilar Timnas Cape Verde
Selain berkarier di level klub, nama Vozinha sangat identik dengan Timnas Cape Verde. Ia telah mengoleksi puluhan penampilan internasional dan menjadi bagian penting dari perkembangan sepak bola negaranya dalam satu dekade terakhir. Sebagai pemain senior, ia kerap dipercaya mengenakan ban kapten dan menjadi pemimpin di ruang ganti. Pengalamannya sangat berharga bagi para pemain muda Cape Verde yang baru merasakan atmosfer turnamen besar.
Pada usia 40 tahun dan 12 hari, ia menjadi pemain tertua yang tampil dalam pertandingan debut Piala Dunia suatu negara, melampaui rekor yang dibuat Eloy Room dari Curacao.
Faktanya, hanya Essam El Hadary dari Mesir yang lebih tua saat menjalani debut Piala Dunia. Ini merupakan pencapaian luar biasa dalam karier yang ditandai dengan ketekunan.
“Saya mulai bermain sepak bola profesional ketika berusia 25 tahun, pada 2012. Itu terlambat bagi orang seperti saya,” kata Vozinha.
“Saya sempat berpikir untuk meninggalkan tim nasional, tetapi kemudian saya melanjutkan karena mimpi ini.
“Performa ini adalah untuk semua orang. Saya adalah pemain terbaik pertandingan, tetapi penghargaan ini untuk semua rekan saya, karena tanpa mereka, tidak ada yang mungkin. Dan saya akan terus bekerja untuk tim dan untuk rakyat.”
Tanjung Verde terletak hampir 600 km di lepas pantai barat Afrika, kepulauan yang indah namun terisolasi. Peluang bagi pemain sepak bola muda terbatas.
Tumbuh di Mindelo, Vozinha menghadapi tantangan sejak awal.
“Saya adalah salah satu kiper terbaik di pulau saya, tetapi saya bertubuh kecil,” kenangnya.
“Bahkan ketika saya tampil baik, saya tidak dipilih karena tinggi badan saya.”
Seperti banyak pemain sebelumnya, ia akhirnya pergi ke Portugal, negara yang pernah menjajah Tanjung Verde, untuk mencari peluang. Keputusan itu menandai awal karier yang membawanya ke Slovakia, Angola, Moldova, dan Siprus.
Kini Vozinha yang dilahirkan di Mendelo di Pulau Sao Vicente Tanjung Verde, 3 Juni 1986 ini, bermain untuk klub divisi kedua Portugal, Chaves.
Bahkan nama Vozinha menyimpan bagian dari sejarah sepak bola.
Nama ditolak
Ayahnya yang seorang militer berharap menamainya “Valdano”, mengikuti legenda Argentina dan Real Madrid, Jorge Valdano, tetapi otoritas registrasi Tanjung Verde menolak dengan alasan berbahasa asing. Sebagai gantinya, ia dinamai Josimar, mengikuti bek Brasil yang mencuri perhatian di Piala Dunia 1986. Nama itu akhirnya melengket pada nama aslinya.
Beberapa dekade kemudian, di panggung Piala Dunia, Vozinha telah menciptakan sejarahnya sendiri. ‘Vozinha membuat pertandingan ini menyala’.













