Dua Jalur Menuju Lakkang, dan Isu Mobilitas Berkelanjutan

Oleh: Rusdin Tompo (Koordinator SATUPENA Sulawesi Selatan)

NusantaraInsight, Makassar — Sejak pertama kali menginjakkan kaki di Lakkang, pada Maret 2011, terasa sekali ada yang berubah.

Perubahan itu paling tampak pada jalur yang ditempuh untuk mencapai pulau sekaligus Kelurahan Lakkang yang terletak di wilayah Kecamatan Tallo, Kota Makassar itu.

Kampung Lakkang yang berada di delta Sungai Tallo dan Sungai Pampang ini, letaknya tak jauh dari kampus Unhas, Tamalanrea.

Luas Lakkang sekira 1,65-3 km persegi. Akses ke sana cukup mudah dan murah. Jarak Lakkang dari Lapangan Karebosi, yang merupakan 0 Km Kota Makassar, hanya berjarak 6-7 Km ke arah Timur Laut.

Di tahun 2006, Lakkang pernah dipilih menjadi pusat peringatan Hari Habitat Sedunia “Cities Magnet of Hope” karena nilai konservasi dan budayanya.

Lakkang resmi ditetapkan sebagai Desa Wisata oleh Kemenpar Ekraf pada tahun 2011, serta terdaftar di Jejaring Desa Wisata Indonesia (Jadesta).

Mengapa bisa? Sebab, Lakkang punya banyak potensi, bukan cuma pemandangan alamnya, tetapi juga wisata sejarah dan budayanya.

BACA JUGA:  FX Rudy Gunawan, Papua, dan Jurnalisme Sipil

Bunker sisa peninggalan tentara Jepang merupakan daya pikat utamanya. Belum lagi ekowisata susur sungai dengan hutan nipah dan mangrove-nya.

*Dua Rute dengan Pengalaman Berbeda*

Ketika saya ke Lakkang, Rabu, 4 Maret 2026, untuk kegiatan Pra-PARKIR dengan Luna Vidya dan tim WRI (World Resources Institute), kami naik dari Dermaga Kera-Kera, yang merupakan dermaga lama.

Tim WRI terdiri dari Stella Hutagalung, Mutiara Kurniasari, Rizzah Aulifia, dan Keisha Rahadini. Saya menjadi bagian dari tim fasilitator bersama Daeng Maliq, Mira Mahirah, dan Rahmiyanti Amir.

PARKIR merupakan akronim dari Pojok Belajar Rakyat Kota untuk Inisiatif Inklusif Rendah Emisi. PARKIR adalah program yang dimotori WRI Indonesia, sebagai inisiatif penelitian kolaboratif dan pengarsipan pengetahuan guna mendorong mobilitas kota yang inklusif, aman, dan berkelanjutan.

Program yang didukung oleh UKPACT ini dimaksudkan untuk mengatasi tantangan transportasi kelompok rentan.

Semula, saya pikir dermaga lama ini tidak lagi difungsikan. Itu berdasarkan informasi yang saya peroleh saat ke sana pada Kamis, 27 Februari 2025.

BACA JUGA:  KEBIJAKAN KESEHATAN DAN DAMPAKNYA PADA MASYARAKAT MISKIN

Ternyata saya keliru. Dermaga dengan topangan kayu-kayu kokoh itu masih aktif. Bahkan terdapat perahu pincara yang stand by di sana.

Hanya saja, ada yang terasa aneh. Dahulu, berdiri alat monitoring pengukur kualitas air sungai, menggunakan panel surya, terpasang di salah satu sisi dermaga.

Pada hari itu–saat saya dan rombongan WRI hendak ke Lakkang–alat yang merupakan bantuan Australia Global Alumni bekerja sama dengan Politeknik Negeri Ujung Pandang (PNUP), dan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Sulawesi Selatan itu sudah tak lagi tampak.