Dua Jalur Menuju Lakkang, dan Isu Mobilitas Berkelanjutan

Mata saya mencoba mencari-cari bekasnya, tetapi sama sekali tak ada.

Yah sudahlah, saya tak lagi fokus ke situ, begitu diajak naik ke perahu pincara milik Yusran Daeng Sambang, yang sekaligus sebagai pappalimbang.

Sungguh, saya begitu menikmati perjalanan kala menyusuri sungai yang lebarnya antara 30-50 meter itu.

Meski sesekali mengajak ngobrol teman di samping, dan menangkap momen-momen penting dengan kamera smartphone, tetapi perjalanan siang kala Ramadan begitu berkesan.

Momen yang saya maksud, adalah ketika menyaksikan serombongan bangau terbang rendah, atau saat melihat beberapa burung berbulu putih itu bertengger di tiang-tiang kayu yang sengaja ditancapkan nelayan sebagai penanda.

Perjalanan menyusuri aliran sungai dengan menaiki perahu pincara, terasa begitu cepat hanya dalam durasi kurang lebih 20 menit. Maunya sedikit lebih lama hehehe.

Saat perahu bersandar di Dermaga Mandiri, terasa ada pula yang janggal.

Dermaga terlihat kurang terawat, pun papan bicaranya sebagian terkelupas atau sobek.

Belum lagi tumpukan sampah yang dijejalkan di antara batang-batang pohon, tepat di samping dermaga, terasa merusak pemandangan.

BACA JUGA:  Momon, Tukang Catut Bioskop, dan Al Pacino

Saat ke Lakkang di waktu lain, tepatnya pada Sabtu, 4 April 2026, dalam rangka Gaukang ri Lakkang 2026, bertema “Dari Kampung untuk Kampung: Menulis Sejarah Delta Lakkang dari Dalam”, saya menempuh rute berbeda dari Dermaga Muda Lakkang.

Saya dibonceng Ferdhiyadi, dosen UNM, dan pegiat literasi, saat masuk kampung Lakkang, karena sepeda motor saya rusak pada hari itu.

Kegiatan Gaukang ri Lakkang ini penanggung jawabnya Sofyan Basri, atas dukungan dari Kementerian Kebudayaan RI melalui Program Dana Indonesiana.

Informasi sekilas saat saya dan Ferdhi ngobrol dengan pappalimbang, diketahui bahwa fasilitas dermaga ke Lakkang dibangun sekira tahun 2005. Sebelum itu, perahu ditambatkan seadanya.

Dermaga baru yang tersambung ke jalan setapak yang terbuat dari paving block ini, diresmikan awal tahun 2021.

Memang, jika lewat sini, waktu tempuh perahu untuk menyeberang lebih ringkas, yakni hanya 2 menit.

Namun, perjalanan dari dermaga ke kampung lebih jauh, berjarak lebih 1 Km. Sehingga rerata tamu disarankan mengendarai motornya langsung ke kampung.

BACA JUGA:  HUT ke-80 TNI: Postur Baru Indonesia Sebagai Middle Power dan Global Swing State

Melewati jalan setapak, kita disuguhi pemandangan persawahan, tambak, dan nipah yang unik, memberi kesan berbeda.

Apalagi bila di jalan kita bertemu dengan hewan peliharaan warga, seperti kambing dan kerbau.

Cuma, pengendara motor yang lewat jalan setapak itu harus hati-hati dan cermat. Keseimbangan perlu dijaga.

Bukan saja lantaran lebar jalan yang pas-pasan tetapi karena di beberapa bagian ada jalan yang rusak, pinggiran yang rawan longsor, dan licin atau agak becek.