Dua Jalur Menuju Lakkang, dan Isu Mobilitas Berkelanjutan

Ketika berbagai aspek kebutuhan penyandang disabilitas itu saya konfirmasikan kepada Daeng Maliq, Kepala Pustakabilitas, PerDIK (Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan), dia menjawab bahwa idealnya memang seperti itu.

Namun, katanya, fasilitas yang bersifat umum saja belum memadai, apalagi mesti menyesuaikan dengan standar aksesibilitas.

Bahkan, kata penyuka buku dan musik itu, di jalur darat, seperti halte, terminal, stasiun, serta angkutan umum saja belum aksesibel.

Padahal kalau standar aksesibilitas ini diadakan, tentu akan mudah dan ramah bagi semua orang. Karena kalau sudah ramah untuk disabilitas, sudah pasti ramah untuk semua. (*)

BACA JUGA:  Momon, Tukang Catut Bioskop, dan Al Pacino