Dua Jalur Menuju Lakkang, dan Isu Mobilitas Berkelanjutan

Selebihnya, bila kita masuk ke Lakkang melewati rute ini, pemandangannya khas nan indah.

Apalagi bila sore hari. Senja yang jatuh di barat akan menghadirkan nuansa bauran gradasi warna biru dongker, jingga, orange, merah marun, kuning keemasan, dan lembayung.

*Isu Mobilitas Berkelanjutan*

Saya berusaha belajar instan untuk dapat memahami istilah-istilah yang terkait mobilitas berkelanjutan.

Maka saya memasukkan prompt ke Meta AI: “Apa yang diperlukan untuk mobilitas berkelanjutan saat menggunakan moda transportasi laut ke Pulau Lakkang, juga saat akan berpindah dari dermaga ke kapal atau perahu, dan dari perahu ke area dermaga dan seterusnya ke daratan di pulau tersebut?”

Jawaban Meta AI saya coba ringkaskan. Menurutnya, untuk ke Pulau Lakkang, idealnya butuh 3 (tiga) tahap yang aksesibel. Intinya, rantai mobilitas tidak boleh putus, mulai dari rumah hingga ke tempat tujuan.

Dijelaskan, saat di dermaga keberangkatan, infrastruktur dermaganya wajib punya ramp landai, bukan tangga curam. Lantainya anti-slip, ada guiding block untuk penyandang disabilitas netra, serta pagar pengaman.

BACA JUGA:  Tadabbur Cinta yang Bersaksi, Cinta Sejati Dimulai dari Sebuah Janji

Informasi, dalam bentuk pengumuman audio plus papan tulisan besar/braille terkait jadwal dan jalur perahu. Mesti ada petugas yang paham cara membantu penyandang disabilitas.

Fasilitas, pun demikian. Toilet aksesibel, ruang tunggu dengan kursi prioritas, serta titik tunggu kursi roda harus diperhatikan tidak kehujanan.

Ketika berpindah dari dermaga ke perahu, dibutuhkan gangway/jembatan perahu yang aksesibel, terdapat pegangan tangan di kedua sisi, dan kemiringan landai.

Perahunya ramah difabel/disabilitas, berpintu masuk lebar, ada ruang kursi roda, lantai rata, dan toilet yang aksesibel. Perlu petugas bantu naik.

Alat bantu portable ramp, juga petugas terlatih. Tersedia jaket pelampung adaptif yang didesain khusus buat penyandang disabilitas fisik.

Begitu tiba di dermaga pulau, dermaganya juga mesti sama aksesibel. Perlu diperhatikan jalur lanjutan menuju kampung, harus jalur rata/paving, bukan tanah. Guiding block diperhatikan hingga area publik.

Transportasi di pulau juga harus diperhatikan. Perlu ada ojek yang dimodifikasi agar bisa mengangkut kursi roda.

Prinsip mobilitas berkelanjutan bagi penyandang difabel/disabilitas dalam konteks ini, yakni universal design, terintegrasi, SDM terlatih, dan ada partisipasi penyandang disabilitas sejak perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi.

BACA JUGA:  SKEMA : Buka Puasa LSI Denny J.A

Sejatinya, ini merupakan kebutuhan mendesak bila kita mau menjadikan Lakkang sebagai destinasi wisata yang ramah difabel/disabilitas. Tampaknya, butuh regulasi, kebijakan, dan anggaran untuk mewujudkan semua itu.