Oleh: Mulyati
NusantaraInsight, Maros — “Sejauh apapun kita melangkah, setinggi apapun kita mendaki, Kasih Sayang Ibu tetaplah yang terindah dan tak akan pernah tergantikan selama selamanya”
Bulan Ramdhan akan segera pergi, Gema Takbir berkumandang, mengalun syahdu, mengisyaratkan untuk kembali merajut benang-benang silaturahmi yang kembali Fitri, aroma ketupat dan rendang menyelinap disetiap sudut ruangan, Kue lebaran tertata rapi di atas meja menyatu dengan aneka macam minuman dan bunga mawar yang dirangkai indah seakan tak mau kalah tampil cantik di hari yang Fitri.
Pandanganku tak lepas dari kue nastar dan coklat, ya kue favoritku, teryata hingga saat ini Ibuku masih saja menyiapkan makanan dan kue favoritku, terbayang kembali masa kanak-kanak, saya bersama adik adik berebut membuat kue nastar dengan bentuk sesuai keinginan masing-masing, Ibuku dengan sabar, membiarkan kami membuat bentuk kue nastar sesuai keinginan setelah itu kami membuat bentuk kue nastar yang sama.
Satu persatu kenangan indah bersama Ibuku kembali mengisi ruang rindu dalam hati yang tak pernah padam, tak pernah lekang oleh waktu. sosok Ibuku, Ibu yang sangat penyayang, wajah yang selalu indah dan senyum yang selalu sejuk bahkan tegurannya adalah tatapan mata yang lembut dan penuh kasih sayang.
Momen Lebaran, yang selalu saya nantikan, momen indah untuk kembali dalam belaian dan pelukan kehangatan Ibunda tercinta berkumpul bersama keluarga, melepas rindu. Rasa haru, suka cita, riang gembira mewarnai rumah sederhana tempatku dilahirkan, kini kami sekeluarga berkumpul, setelah terpisah oleh jarak dan waktu karena impian dan cita cita.
Usai makan malam, disaat yang lainnya sibuk dengan cerita dan pengalaman masing masing, saya mencari Ibu ternyata beliau masih sibuk merapikan perabot dapur, sekilas terlihat Ibu sesekali menyeka keringat di dahinya, saya menghampiri dan mengajak untuk istirahat, dan mengobrol santai, ibu akhirnya menurut, kami kemudian menuju ruang tengah, sambil bersandar di dinding ibu mulai bercerita mengenang kembali masa masa kecil saya dulu sambil diselingi senyum, Ibu berkata saya kadang manja tapi keras kepala, jika saya menginginkan sesuatu tidak ada kata untuk tidak dipenuhi, saya hanya menyimak dan mendengarkan dengan asyik. Tak ada firasat dan prasangka apapun dengan cerita Ibuku.
Malam semakin larut namun Ibu masih terus bercerita dan meminta saya untuk membelikan pesananya, sambil menggengam tangan saya Ibu berkata “ Nak kalau kamu pulang, nanti jenguk Ibu lagi bawakan Ikan Bandeng Besar yang sudah di bakar dan mie pangsit yang pernah kita makan bersama, dan belikan saya baju yang cantik dengan model yang sama dengan baju yang saya pakai, untuk pembeli baju, nanti Ibu yang bayar” mendengar permintaan Ibu saya langsung mengiyakan dengan semangat, “Iya Ibu nanti saya akan datang lagi dan membawa pesanan Ibu, untuk baju saya yang akan belikan,” jawabku.













