NusantaraInsight, Takalar — Calon Rektor Universitas Hasanuddin (Unhas) Prof Sukardi Weda membahas Permata Karya Prof Kembong Daeng di Yayasan Pendidikan Literasi Seni Sastra Pannyaleori, Dusun Bonto Lebang, Desa Moncong Komba Kabupaten Takalar Sulawesi Selatan, Sabtu (3/1/2026).
Permata Karya merupakan autobiografi Prof Kembong Daeng dan disunting oleh Rusdin Tompo yang juga hadir sebagai pembicara bersama Abdul Jalil Mattewakkang dan Rosita Desriani mendampingi Prof Sukardi Weda.
Dipandu oleh Sekretaris Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) Anwar Nasyaruddin diskusi buku Permata Karya dan Launching Program Pannyaleori Institut mengangkat tema Perkuat Literasi demi Pemajuan Kebudayaan.
Dalam paparannya membahas buku Permata Karya, Prof Sukardi Weda menyebutkan bahwa dalam buku karya Guru Besar Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Negeri Makassar (UNM) itu, pembaca bisa menemukan banyak hal.
“Baik itu tentang kisah perjalanan seorang Prof Kembong Daeng hingga mencapai Guru Besar di UNM, kisah salah nama yang sebelumnya Kaima Daeng Kembong menjadi Kembong Daeng dan sederet kisah menarik lainnya yang bisa diambil dari buku ini,” terang Prof Sukardi Weda.
Dia menambahkan bahwa dalam interaksinya bersama Prof Kembong Daeng, mereka pernah menulis bersama tentang linguistik.
“Kebetulan beliau menulis tentang linguistik bahasa Indonesia dan saya menulis linguistik bahasa Inggris,” imbuhnya.
Prof Sukardi Weda memuji Prof Kembong sebagai akademi yang sangat concern terhadap Bahasa Makassar dan menghasilkan 3300 kelong.
“Buku ini tidak hanya bernuansa fiksi tetapi ada banyak kelong, puisi, dan sejarah,” kata Prof Sukardi yang mengaku membaca tuntas buku tersebut hingga subuh.
Selain itu, Prof Sukardi Weda menyebutkan bahwa dalam buku ini juga memuat nilai keteladanan, pendidikan karakter dalam konsep Sipakainga, sipakalabbiri dan juga sejarah.
Lebih jauh, ia menyoroti tentang sosok ayahanda Prof Kembong Daeng, yang menurutnya adalah sosok pahlawan yang sesungguhnya, walaupun tanpa pengakuan dari negara.
Ia berharap agar Pannyaleori Institut ini dapat menjadi tempat pengembangan wisata literasi sejarah, kesenian dan juga budaya, kata Calon Rektor Unhas ini menutup keterangannya.
Diskusi Buku Permata Karya dan Launching Program Pannyaleori Institut ini dihadiri oleh sejumlah sastrawan, akademisi, jurnalis dan penggiat literasi dari Kota Makassar.
Mereka di antaranya, Yudhistira Sukatanya, Dewi Ritana, Dr. Fadli Andi Natsif (akademisi), Rahman Rumaday (penulis), M. Amir Jaya (sastrawan), Dr. Azis Nojeng (akademisi), Topan, Nasrullah (Jurnalis) dan juga Rusdi Embas (jurnalis).












