5 Agenda di Penghujung 2025 (31), Ajakan Om Awing

_By Rahman Rumaday_

NusantaraInsight, Makassar — Pagi itu, sekitar pukul 07.30. Seperti biasa, kaki ini melangkah pelan menyusuri lorong. Bukan sebatas lewat, tapi mendengar. Bukan sebatas melihat, tapi merasakan. Lorong selalu punya cerita kadang riuh oleh tawa, kadang sunyi oleh keluhan, kadang menyimpan tangis yang tidak sempat diucap. Mengamati, menguping bahwa adakah anak yang tidak ke sekolah hari ini? adakah ibu yang menyimpan lelah? adakah harapan yang masih menyala diam-diam?

“Hidup sering kali berbicara pelan, dan hanya mereka yang mau berjalan perlahan yang bisa mendengarnya.”

Tidak terasa waktu di layar HP sudah menunjukkan pukul 09.30, saya segera berpindah tempat duduk dan langkah pun membawa saya ke Warkop Om Ben, Kompleks Permata Mutiara Jl. Daeng Tata Raya Kelurahan Bontoduri.

Segelas teh susu jadi teman setia, sementara kepala mulai merancang konsep laporan kegiatan kantor. Saya memilih sudut paling belakang, meja yang entah kenapa terasa akrab, seolah sudah paham betul kebiasaan saya. Barangkali karena terlalu sering duduk di sana, para pelayan bahkan hafal apa yang biasa saya pesan.

BACA JUGA:  Eksistensi Pak Ogah di Jalan Raya, Persoalan Sosial. DR. Imran Kamaruddin S. Kom: Solusi Lintas Sektoral!

“Teh susu ki’?” tanya Fika, tanpa buku menu, tanpa basa-basi. Seorang pelayan di kafe itu yang sudah saya kenal namanya

“Iye’, teh susu”, jawab saya singkat.

“Kesederhanaan yang berulang sering kali menjelma menjadi kenyamanan.”

Resleting tas dibuka, laptop keluar, disusul pulpen dan buku catatan kecil benda-benda yang selalu setia menemani saya.

Tidak sampai lima menit, teh susu datang. Lengkap dengan segelas air mineral dan pipet. Sederhana. Tapi di situ saya belajar bahwa hidup tidak selalu perlu disajikan dengan berlebihan, cukup tepat dan tulus.

“Bahagia itu bukan tentang apa yang kita minum, tapi tentang siapa diri kita saat menikmatinya.”

HP saya berkedip (mode silent). Pesan dari Om Awing.
Ajakan makan ikan bakar di Tanjung Bunga depan Masjid Cheng Ho. Tanpa banyak pertimbangan, laptop saya shutdown. Ada rencana yang bisa ditunda, tapi ada silaturahmi yang tidak pantas diabaikan apalagi pesan itu datang dari seorang sahabat yang akrab saya sapa om Awing dia seperti saudara kandung jadi tidak boleh tidak saya harus penuhi itu panggilannya.

BACA JUGA:  Saatnya Orang Membaca Tulisanku

“Kadang, keputusan terbaik adalah yang paling sederhana yakni memenuhi panggilan kebersamaan.”

Kuda besi merah siap melaju. Jalanan Kecamatan Tamalate (Kelurahan Bontoduri, Kelurahan Parang Tambung, Kelurahan Balang Baru, Kelurahan Maccini Sombala) saya telusuri antara Jalan Daeng Tata Raya, Abdul Kadir, Dangko, Tanggul Patompo, hingga Metro Tanjung Bunga. Jalan-jalan itu seperti potongan hidup berliku, padat, tapi dapat memandu saya membawa ke tujuan tidak sampai 10 menit saya pun tiba di titik serlok.