NusantaraInsight, Makassar — Nama M.Basir, memang layak digores dengan tinta emas dalam ranah kewartawanan di Sulawesi Selatan.
Track record-nya sebagai seorang jurnalis tidak diragukan lagi. Bukan hanya itu, naluri kewartawanannya begitu tajam. Dia bagaikan kawah candradimuka bagi wartawan-wartawan muda di belakang generasinya. Termasuk Rahman Arge, Arsal, Ramiz Parenrengi, Andi Moein MG, dan beberapa nama lainnya, pernah menempatkan almarhum sebagai guru dan senior.
Juga, oleh beberapa wartawan di media yang pernah dipimpinnya, Pedoman Rakyat. Naluri jurnalistik M.Basir memang sangat tajam. Tidak heran, dia berbagi tugas L.E.Manuhua menakhodai PR. Manuhua di bilik keperusahaan, Basir di kamar keredaksian.
Jiwanya, sebagaimana layaknya anak-anak desa yang lain, Basir kecil tumbuh dan bermain di lingkungan desa yang baik ketika itu. Tak ada yang mencolok dari dirinya, kecuali kulitnya yang putih bersih. Tubuhnya sedikit bongsor. Meskipun terbilang nakal, Basir cilik sering tampil sebagai pembela sekaligus pelindung jika ada yang mencoba mengganggu teman-temannya.
Ia begitu setia kawan.
Seusai sekolah, Basir memiliki tugas menjajakan kue yang dibuat ibunya, Iyada Dg. Cuda. Tanpa malu-malu, ia keliling kampung. Dari pintu ke pintu. Dari pasar ke pasar. Menjajakan kue enak produksi tangan cekatan sang Ibunda tersayang.
‘‘Dengan tekun dan riang, ia melakoni tugasnya ini dan menjadikannya banyak belajar. Satu cita-citanya ketika itu, ia mau keliling dunia,’’ tulis Maysir Yulanwar, cucunya, seperti dimuat yapti.ac.id. 21 Oktober 2008 dan saya akses melalui www.google.com, 5 April 2009.
Saat mulai dewasa, pemuda Basir hijrah ke Makassar. Di kota yang baru berkembang ini, ia memilih menjadi seniman teater. Berkawan dengan banyak artis lokal bahkan artis ibu kota, membawanya keliling separuh wilayah Republik Indonesia. Beberapa aksi panggung diikutinya, termasuk beberapa naskah teater lahir dari tangannya. Sadar akan kemampuannya di dunia tulis menulis, Basir lalu menekuninya, dan ‘terdampar’ di dunia jurnalis.
Bersama rekannya, Basir membantu membidani lahirnya koran perjuangan bernama Pedoman Rakyat. Jika para pejuang kita bertempur dengan badik terhunus, Basir berjuang dengan dua sekaligus: badik dan mesin ketik.
Di sela-sela kesibukannya sebagai pejuang (wajib militer), Basir ‘membombardir’ Belanda dengan tulisan-tulisannya yang tajam. Alhasil, beliau menjadi salah satu incaran Kompeni ketika itu.
Sebuah penangkapan dramatis terjadi, Basir digiring dan dilempar ke atas truk untuk dibawa ke lokasi eksekusi. Maut sudah menyambutnya.












