FIKSI MINI (17): Menteri Tak Tahu, Tuhan Tahu

“Sekali lagi: mana misterinya?”

Dani menarik napas. Menikmati kopi dan sepotong pisang goreng. Setelah itu, dia pun bercerita tentang misterinya keberadaan pagar laut.

“Pagar itu menjadi berita menarik di media. Menariknya: benar pagar itu ada. Panjangnya tiga puluh kilometer. Namun: hingga hari ini tak satu pun orang mengaku sebagai pihak yang memagari laut.”

“Oh, jadi itulah misterinya?”

“Iya, ada pagar, tapi tak diketahui siapa yang memagari. Juga tak ada yang bertanggung jawab sebagai pembuat pagar. Coba: kurang apa misterinya?”

***

Menjelang kami hendak meninggalkan warkop, saya serius bertanya kepada teman saya Dani. “Menurutmu: untuk apa ada pagar laut itu dan siapa yang memagari?”

“Pemasangan pagar laut sepanjang tiga puluh kilometer itu saya duga dari mereka yang merencanakan mencaplok laut. Mereka hendak menimbunnya. Membangun rumah mewah atau gedung mewah di atasnya. Setelah itu: mereka menjualnya dengan harga mahal.”

“Mereka sangat berani mengangkangi aturan-aturan di negeri ini, ya?”

Dani tersenyum. Menepuk pundak saya, lalu berbisik ke telinga saya:

BACA JUGA:  FIKSI MINI (6) : Pura-Pura Bermoral

“Mereka berani lantaran punya uang membeli aturan dan pejabat-pejabatnya.”

Saya diam. Merenung. Lalu bergumam: “Bung, engkau manusia yang tak bernama itu, manusia pengecut itu, manusia serakah itu, kau boleh membeli aturan dan pejabat di negeri ini, tapi laut TIDAK. Laut, bukan milikmu, Bung! Laut milik: ikan-ikan berenang. *****

 

Catatan: cerita ini hasil revisi. *