Sejumlah karyanya dijadikan sampul buku terbitan Penerbit De La Macca dan Garis Khatulistiwa, juga sampul Majalah Macca.
Di kantor penerbit De La Macca itu pula merupakan kali terakhir saya bertemu dengan lelaki rendah hati itu, tepatnya dua hari sebelum Hari Raya Idulfitri.
Ahmad Anzul tak lagi berbicara, hanya menunjuk lehernya, dan dengan isyarat, hendak menyampaikan bahwa suaranya tidak bisa lagi keluar. Jadilah saya dan Goenawan Monoharto ngobrol, dan Ahmad Anzul menyimak dengan tangan yang disilangkan, sambil sesekali senyum kecil.
Minggu, 22 Maret 2026, kami mendengar kabar duka itu. Ahmad Anzul berpulang ke Sang Pencipta.
Serupa garam yang telah memberi rasa pada kehidupan, ia larut dalam kefanaan. Sosoknya telah tiada, tetapi jejak rasa karyanya tetap tinggal pada hidup yang pernah digaraminya. (*)












