Ahmad Anzul, dan Arsip Visual sebagai Seni Menggarami Hidup

Padahal penting, apalagi bagi seniman yang sudah wafat. Dengan begitu, catatan kuratorial akan menjadi dokumen dan arsip seni rupa yang tidak saja informatif tetapi juga mengedukasi.

Pameran ini nirleka nir-narasi selain tulisan:

Rindu yaa..?
Sama kami

Ahmad Anzul

Sebagai pengunjung, kita menafsir sendiri. Atau paling banter menikmati guratan-guratan yang kadang terasa ritmis dan puitis.

*Eksperimen Ekspresi*

Saya berdiri sambil membuat catatan atas pembacaan karya-karya ukuran mungil itu. Gambar-gambar yang lahir bagai seorang kanak-kanak mengisi waktu luang. Paling tidak, itu pengalaman saya di masa kecil, kala masih getol-getolnya menggambar.

Pada karya-karya Ahmad Anzul, terasa eksplorasi garis, warna, bidang, tekstur, dan gestur dilakukan. Tampak kecenderungan abstraksi, yang tak harus menuntutnya menghadirkan objek yang jelas terbaca dan dikenali.

Lukisannya tumbuh dari persilangan garis, tumpukan warna, coretan, dan pengulangan motif visual. Ada gambar yang didominasi warna biru dengan garis-garis samar, ada yang kontras hitam putih, ada pula yang mempertemukan warna-warna cerah, seperti merah, kuning, jingga, hijau, dalam suasana dan susunan yang padat.

BACA JUGA:  Buku Ngaji Sugih : Adakah Bahagia Tertinggi, Lalu... Syukur dan Sabar?

Karya-karya Ahmad Anzul menerakan jejak garis dan ingatan. Garis-garis itu berkelok, berputar, bertumpuk, mengular, menyilang, membentuk simpul, terkadang serupa figur. Garisnya kadang tegas dan gelap, tetapi pada karya lainnya hadir tipis, samar, dan getir.

Ahmad Anzul berani bermain warna. Baginya, warna lebih dari sekadar memperindah permukaan. Namun, warna mengatur suasana, menentukan tekanan visual, dan cara mata mencermati, bergerak dari satu bagian ke bidang lain.

Ranahnya sebagai perupa punya tempat tersendiri. Ia gesit, lincah, dan kreatif melukis di atas bidang yang kecil dan sempit. Format gambarnya boleh kecil tetapi skala pengalaman visual yang disampaikannya terbilang luas.

Ahmad Anzul mau mengatakan, medium yang kecil dan sederhana tak bisa menghentikan optimismenya berkarya. Keterbatasan ruang bukan alasan untuk kaku mengelaborasi ide-ide. Sebab kreativitas justru ditantang dalam serba keterbatasan.

Bacaan saya, Ahmad Anzul seolah menyuarakan ruang gerak hidup manusia pada kotak-kotak nasib yang terasa sempit, di mana gerak hidup berpusing dari itu ke itu juga. Bahkan cenderung sengkarut.

BACA JUGA:  SORAYA: MENIKAHKAN PENGALAMAN, PEMIKIRAN, DAN KEHIDUPAN

Karya-karya tanpa judul itu, membuat kita sebagai penikmat lukisannya bebas menemukan asosiasi masing-masing, baik terkait figur, fragmen lanskap, tanda, simbol, atau sekadar memahami garis dan warnanya.

*Ikonografis Kampung Garam*

Jangan berharap banyak bahwa Pameran Tunggal Seni Rupa bertitel “Kampung Garam” itu, serta-merta menyodorkan gambar-gambar kampung garam. Brand Ahmad Anzul sebagai perupa kampung garam tidak otomatis membuat kita bisa menemukan identitas lokal kampung garam dengan posisi dan praktik seninya–paling tidak dalam pameran tersebut.

Lukisan-lukisannya dalam pameran berlabel “kampung garam” sama sekali tidak menunjukkan rujukan ikonografis yang secara jelas dapat diidentifikasi sebagai gambaran kehidupan kampung garam. Awam lebih mudah menangkap lukisan-lukisan itu sebagai eksplorasi garis, warna, dan komposisi abstrak di bidang yang kecil. Meski begitu, perupanya terbilang cukup produktif, energinya tercurah pada pengkaryaan.

Sebagai informasi, di Sulawesi Selatan, ada beberapa daerah yang terkenal sebagai penghasil garam. Di Kabupaten Jeneponto sebagai penghasil garam terbesar di daerah ini, sentra garam terdapat di Bangkala, Arungkeke, Bangkala Barat, dan Tamalatea.

BACA JUGA:  Catatan Sastra Diskusi Buku 'Ombak Laut': PUISI SEBAGAI GELOMBANG PERJALANAN

Produksi garam juga bisa ditemui di Kabupaten Pangkep, dengan sentra garam berada di Labakkang dan Bungoro.