Ahmad Anzul, dan Arsip Visual sebagai Seni Menggarami Hidup

Di Kabupaten Takalar juga terdapat sentra produksi garam, yakni di Mangarabombang dan Mappakasunggu. Kabupaten Selayar juga tercatat sebagai penghasil garam, di mana sentranya berada di Bontoharu.

Karena itu, butuh penelusuran lebih lanjut untuk mengaitkan kehadiran karya-karya artistik Ahmad Anzul dengan brand-nya sebagai perupa kampung garam. Tanggung jawab itu, mestinya diemban oleh Kurator Pameran, Achmad Fauzi, dan Koordinator Program, Wahyuddin Yunus.

Dalam sejumlah pemberitaan terkait pameran (tribuntimur.com, pelakita.id, dan matakita.co) disebutkan bahwa “Spirit Leang-Leang, Napas Panjang Seni Rupa Makassar #3”, mengangkat hubungan antara seni, tradisi, dan kehidupan masyarakat pesisir.

Karya Ahmad Anzul, tulis berita itu, menggambarkan kehidupan masyarakat pesisir melalui pengalaman personal dan ingatan masa kecil.

Karya “kampung garam”, sebelumnya menjadi bagian dari pembacaan seni rupa dalam Makassar Biennale 2017. Mengutip catatan art.e.fact, dikatakan bahwa Ahmad Anzul mengolah pengalaman masa kecil dan kehidupan sehari-hari masyarakat pesisir menjadi karya yang menempatkan kampung garam sebagai material sekaligus simbol perjalanan hidup.

Dalam pameran ini–lagi-lagi tulis berita tersebut–proses produksi garam, mulai dari penguapan air laut, kristalisasi, hingga panen, dimaknai sebagai metafora proses kreatif seorang seniman. Pengalaman hidup yang terus mengendap kemudian diolah melalui perenungan hingga menghasilkan karya visual.

BACA JUGA:  Mulai dari Guru Besar Hingga Guru Mengaji Lorong Membicarakan Buku Ngaji Sugih di Makassar 

Wahyuddin Yunus, sebagai Penanggung Jawab Program Spirit Leang-Leang bilang, ia mengkoordinasikan kegiatan yang tidak hanya berorientasi pada penyelenggaraan pameran, tetapi juga pendokumentasian karya dan pemikiran para perupa Makassar.

Sebuah upaya yang patut diapresiasi. Pasalnya, Ahmad Anzul telah menjadi bagian dari perjalanan sejarah seni rupa di Makassar. Sebagai seniman instalasi dan perupa kampung garam, ia ikut berkontribusi dan memberi warna pada dinamika keseni-rupaan di daerah ini.

Ikhwal julukan perupa kampung garam, Goenawan Monoharto menceritakan pengalaman Ahmad Anzul saban kali dibuatkan menu telur dadar oleh istrinya, yang dinikahi di Hari Bahari Nasional.

Ahmad Anzul, kata seniman fotografi itu, selalu kebagian potongan telur di mana garamnya mengumpul. Itu yang membuat wacana kampung garam melekat di benak kawannya tersebut.

Ahmad Anzul kian mantap pada konsep kampung garam sepulangnya dari Baloiya, Kabupaten Selayar. Kala itu, ia baru saja turut mengerjakan artistik tugas akhir S2 penciptaan Hamrin Samad, sahabatnya. Di siang terik, mobil yang ditumpangi bersama rombongan tiba-tiba berhenti di Jeneponto, tepat di daerah yang terkenal sebagai sentra produksi garam rakyat.

BACA JUGA:  Catatan Sastra Diskusi Buku 'Ombak Laut': PUISI SEBAGAI GELOMBANG PERJALANAN

Begitu turun dari mobil, Ahmad Anzul menghirup aroma ladang garam. Bau asin yang pekat seolah merasuki tubuhnya. Seketika ia merenungkan perihal garam dan manfaatnya.

Persinggahan di dekat ladang garam, punya makna mendalam. Ahmad Anzul bukannya merasa gerah terpapar panas di area gersang. Ia justru menuai peristiwa imajinatif sebaliknya. Dibayangkan, ada kupu-kupu membawa es batu yang membuatnya merasa sejuk.

“Saya mesti membuat karya yang menyejukkan hati orang lain. Jadilah Anzul juragan “Kampung Garam”,” kata Ahmad Anzul sebagaimana dinukilkan Goenawan Monoharto di Mapress.co.id.

Kisah Ahmad Anzul dan kampung garam juga bisa dibaca di Tempo.co, yang diunggah pada 18 Januari 2015. Di artikel itu, Ahmad Anzul mengaku mulai mengerjakan seri kampung garam sejak tahun 2014.

Terkadang, ia melukis hal yang tidak rasional, seperti dalam lukisan Mencari Berlian di Tumpukan Garam, seri Kampung Garam #22. Lukisan ini sebagai kritik terhadap banyaknya pejabat di pemerintahan yang ditempatkan tak sesuai dengan keahliannya.