Ahmad Anzul, dan Arsip Visual sebagai Seni Menggarami Hidup

Sebagai seniman otodidak, ia mematangkan konsep kerjanya dengan berdiskusi secara intens bersama sejumlah seniman. Nama-nama seperti Ahmad Fauzi, Budi Haryawan, Amrullah Syam, Ishakim, Jenry Pasassan, Faisal Syarif, Asdar Muis RMS (almarhum), dan sejumlah perupa dan penggiat seni pertunjukan merupakan lingkaran pertemanannya dalam berdiskusi.

Goenawan Monoharto menunjukkan salah satu bukti karya instalasi Ahmad Anzul yang berasa kampung garam. Karya instalasi berjudul Home #5 ditampilkan dalam Pameran Mengenang Leang-Leang di Fort Rotterdam, 12-19 November 2021.

Menurut Ahmad Anzul, Leang-Leang di kawasan arkeologi Maros-Pangkep yang berusia lebih dari 51.200 tahun, merupakan titik nol seni rupa dunia.

Dalam pameran bertema “Spirit Leang-Leang, Melampaui Rupa, Memaknai Nilai Sejarah”, yang diselenggarakan Makassar Art Initiative Movement (MAIM) itu, Ahmad Anzul menampilkan Home, berupa tiga rumah di bumi. Pertama, sarang sebagai rumah burung; kedua, rumah sebagaimana dihuni manusia; dan ketiga, karamba/rompong/bubu sebagai rumah ikan.

Di karya seni instalasinya itu, Ahmad Anzul menumpuk, mengurai, dan menata sekira seratusan kilogram butir-butir garam yang didatangkam dari Jeneponto dan Pangkep. Dibayangkan, butir-butir kristal garam tersebut akan memberi efek kilau manakala terkena sinar matahari.

BACA JUGA:  Catatan Sastra Diskusi Buku 'Ombak Laut': PUISI SEBAGAI GELOMBANG PERJALANAN

“Bila turun hujan, tak apa, memang takdirnya kembali ke air,” katanya filosofis.

*Karya yang Berjejak*

Ahmad Anzul lahir di Makassar, 11 September 1967. Saya pertama kali melihat dia, ketika sering bertandang ke rumah Hamran di Kampung Kassi-Kassi, di Jalan Letjend Hertasning. Dia datang bersama pelukis tanah liat, Zainal Beta, Syafar, Ari, dan kawan lainnya. Hamran ini ponakan saya. Rumah kami berseberangan jalan. Nanti Hamran menikah dengan tantenya, Ahmad Anzul.

Seingat saya, Ahmad Anzul mula-mula membuat kerajinan gelang, saat masih di Pasar Seni Somba Opu, tahun 1990-an. Kawasan ini dahulu dikembangkan sebagai Proyek Miniatur Sulawesi Selatan. Tahun 1999, lingkungan sosialnya di Gedung Kesenian Societeit de Harmonie ikut mempengaruhi minatnya pada seni rupa. Di tahun itu, ungkap Zainal Beta, Ahmad Anzul mulai melukis.

Sebagai perupa ia ikut berpameran pada Makassar Art Forum 99. Ia menampilkan karya di Stasiun 9 Festival Kampung Mangasa yang diinisiasi Rimba Kasumba, dan menyajikan seni pertunjukan Kampung Garam di halaman rumah Asdar Muis RMS di Sudiang.

BACA JUGA:  Catatan Sastra Diskusi Buku 'Ngaji Sugih' : TRANSFORMASI SPIRITUAL

Ahmad Anzul melanglang ke Bali atas undangan seniman tari Prapto Suryodarmo untuk pertunjukan ritual “Segenggam Tanah” (Trilogi: Tanah).

Ia membawa tanah, menanam pohon rambutan dan kelapa pada Collaboration Asia-Eropa in Art and Environment di Tejakula, Singaraja, tahun 2000.

Ia juga berpartisipasi pada pameran seni rupa Kalimantan Art Exibition II di Balikpapan, tahun 2005.

Di tahun 2016, bersama Amrullah Syam, ia mengerjakan patung tiga tokoh dunia: Nelson Mandela, Syekh Yusuf al-Makassari, dan Mahatma Gandhi. Patung ini bisa dilihat di Anjungan Pantai Losari, yang merupakan landmark Kota Makassar.

Ia memiliki kepedulian sosial yang tinggi. Misalnya, pernah mengajar di Lembaga Pemasyarakatan Khusus Imigran di Gowa, tahun 2016. Pernah pula berkeliling kabupaten mengajar membatik, di tahun 2017.

Pada Makassar Biennale 2017, karyanya Kampung Garam #107 dipamerkan.
Dua tahun berikutnya, dalam Makassar Biennale 2019, ia terlibat dalam tim FindArt Space.

Tahun 2021, Ahmad Anzul ikut men-display karya kolaborasi fotografi dan tari berjudul Refocusing Pakarena.

Semasa hidupnya, ia aktif berorganisasi. Pernah jadi anggota Departemen Seni Rupa Dewan Kesenian Makassar (DKM), bergabung di Yayasan FindArt Space di Antang, juga bergiat di Makassar Art Initiative Movement (MAIM),