Jangan Menukar Akhirat dengan Kemenangan Sesaat
Tulisan ini bukan untuk menghakimi seseorang yang sedang berperkara. Bukan pula untuk menyimpulkan bahwa setiap perbedaan keterangan merupakan kebohongan. Seseorang bisa saja keliru mengingat, memiliki keterbatasan penglihatan, atau tidak mengetahui seluruh peristiwa.
Namun, ada perbedaan yang sangat mendasar antara kesaksian yang keliru karena keterbatasan manusia dan kesaksian palsu yang sengaja dibuat untuk menyesatkan pengadilan.
Jika seseorang mengetahui fakta tetapi sengaja membalikkan kenyataan, terlebih setelah bersumpah dengan Al-Qur’an, maka ia sedang melakukan pengkhianatan terhadap amanah kesaksian.
Karena itu, sebelum seseorang mengucapkan sumpah di ruang persidangan, seharusnya ia bertanya kepada dirinya sendiri: Apakah saya benar-benar mengatakan apa yang saya ketahui? Apakah saya sedang menyampaikan fakta atau sedang melindungi kepentingan tertentu? Apakah saya siap mempertanggungjawabkan setiap kalimat ini di hadapan Allah?
Sebab, kemenangan di pengadilan dunia tidak selalu berarti kemenangan di hadapan Allah.
Jangan sampai seseorang merasa berhasil memenangkan perkara dengan kesaksian palsu, tetapi sesungguhnya sedang menyiapkan kekalahan yang jauh lebih besar di akhirat.
Dan bagi siapa pun yang merasa menjadi korban dari kesaksian yang tidak benar, jangan kehilangan keyakinan terhadap keadilan Allah. Teruslah berjuang melalui jalan hukum, hadirkan bukti, uji setiap keterangan melalui mekanisme cross examination, dan jangan membalas kebohongan dengan kebohongan.
Biarkan fakta berbicara di pengadilan dunia. Biarkan proses hukum berjalan dengan benar. Dan serahkan apa yang belum terungkap kepada Allah Yang Maha Mengetahui.
Wallahu A’alam Bishowab












