Unhas Kukuhkan 4 Guru Besar, 3 di Antaranya Istri Profesor

“Oleh karena itu, perawatan estetik harus dipandang sebagai bagian dari kesehatan yang utuh, selama dilakukan rasional tanpa mengorbankan integritas biologis gigi dan jaringan pendukung,” ujar perempuan kelahiran Makassar 18 Mei 1964 tersebut mengutip pandangan Meireles.

Kedokteran gigi estetika modern, kata alumnus Fakultas Kedokteran Gigi Unhas (1989) ini, menekankan keselarasan estetika, biologi, dan fungsi melalui intervensi yang aman, minimal invasif, dan berorientasi jangka panjang. Ke depan, riset difokuskan pada material dan teknologi biokompatibel, reparabel, dan adaptif, termasuk biomaterial, digital dentistry, dan ‘artificial intelligence’ (AI) — kecerdasan buatan — untuk meningkatkan akurasi dan prediktabilitas perawatan.

“Kurikulum kedokteran gigi perlu mengintegrasikan ilmu dasar, keterampilan klinis, etika, dan riset untuk menghasilkan dokter yang kompeten, kritis, dan berorientasi pada keselamatan pasien,” lulusan S-3 ‘Dental Science’ University of Hiroshima Japang (1997) yang meraih Sp-1 Ilmu Konservasi di Unhas (2013) menyimpulkan orasi ilmiahnya.

Marhamah

Tampil pada sesi terakhir pengukuhan, perempuan kelahiran Soppeng 5 Maret 1963 dan alumnus SMA Negeri Watansoppeng (1981) ini mengatakan, beberapa penyakit sistemik pada anak yang menimbulkan kelainan pada rongga mulut adalah;lupus dan penyakit radang usus (croha), diabetes tipe 1, “acquired immuno deficiency syndrome” (AIDS) — kondisi saat sistem kekebalan tubuh sudah sangat lemah dan tidak mampu melawan infeksi, leukimia (kanker sumsum tulang yang berdampak pada produksi sel darah putih), anemia sel sabit, epilepsi (gangguan sistem saraf pusat yang ditandai kejang berulang tanpa pemicu yang jelas), dan fibrosis kistik (penyakit genetik bawaan yang menyebabkan lendir dalam tubuh menjadi kental dan lengket.

BACA JUGA:  Ini Tiga TPA Wisuda Santri di Al Hidayah

“Beberapa kelainan pada rongga mulut yang berhubungan dengan penyakit sistemik adalah sariawan (disebabkan kurang gizi dan hormon), infeksi jamur, gigi retak/patah ditemukan pada penderita epilepsi, pembesaran gusi disertai perdarahan; biasanya terjadi pada penderita leukimia, gusi pucat (terjadi karena penyumbatan aliran darah), radang gusi yang disertai pembusukan; biasanya ditemukan pada penderita AIDS, dan kerusakan gusi dan tulang pendukung gigi serta gigi berlubang,” alumnus FKG Unhas (1994), Magister Kesehatan Unair (1994), Doktor Unhas (2004), dan Program Pendidikan Dokter Gigi Spesialis (Ilmu Kedokteran Gigi Anak Unhas (2023) menyimpulkan materi orasinya.

Ibu satu anak ini pertama diangkat sebagai dosen Unhas pada tahun 1989, setahun setelah meraih gelar Dokter Gigi di Unhas (1988). Di sela-sela kesibukan akademiknya, Prof. Marhamah pernah aktif sebagai Ketua Korps HMI-wati (Kohati) FKG Unhas (1983-1984), Ketua PERHATI MD Makassar, Pengurus KAHMI MD Makassar (2022-2027), Pengurus KAHMI Rayon Unhas, Pengurus DPD dan DPP Kerukunan Keluarga Soppeng, Pengturus Kerukunan Keluarga Bone, Pengurus BKMI Wilayah Sulsel, Pengurus Persatuan Dokter Gigi Cabang Makassar dan Wilayah Sulselra, dan Ketua IKA Unair wilayah Sulsel (2025-2030).