Kebanggaan Almamater dan Jejak Pengembangan Ilmu Hukum dalam Karier  

Ilmu

 

Oleh: Aminuddin, SH, MH

Makassar | NusantaraInsight —  Bagi saya, nama Universitas Hasanuddin bukan sekadar nama perguruan tinggi, melainkan identitas yang melekat, sumber kebanggaan, dan fondasi ilmu yang membawa saya melangkah hingga hari ini. Ada dua momen yang tak akan pernah saya lupakan dan selalu membuat hati ini senang sekaligus bangga. Pertama, saat melihat nama saya tertera dalam pengumuman hasil UMPTN bertahun-tahun silam. Saat itu, diterima dan bisa belajar di salah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia adalah sebuah pencapaian besar, bukti bahwa kerja keras membuahkan hasil, sekaligus pintu gerbang menuju masa depan. Momen kedua yang sama berharganya adalah hari ini—bisa berjumpa kembali dengan teman-teman seangkatan 1999, bersilaturahmi, dan berbagi pengalaman dengan adik-adik mahasiswa Universitas Hasanuddin, khususnya Fakultas Hukum. Pertemuan ini adalah bukti bahwa ikatan almamater tidak pernah putus, meski waktu berlalu dan kita menempuh jalan karier yang berbeda-beda.

Setelah lulus dan diwisuda dari Universitas Hasanuddin, perjalanan karier saya terus berlanjut dan membawa saya ke berbagai ranah pekerjaan. Saat ini, saya berperan sebagai dosen sekaligus pengurus Yayasan Indonesia Timur. Artinya, setiap hari saya masih berada di lingkungan pendidikan—bertemu rekan dosen, berinteraksi dengan mahasiswa, dan terlibat dalam dunia perguruan tinggi. Posisi ini membuat saya menyadari betapa luasnya penerapan ilmu yang pernah saya pelajari di bangku kuliah, terutama ilmu hukum.

BACA JUGA:  Rapat Senat Unismuh Makassar Mengesahkan Tiga Calon Rektor, ini Sosoknya

Sering kali, saat saya mengadakan sesi tanya jawab pada kuliah perdana di Fakultas Hukum, saya selalu menanyakan satu hal: “Mengapa adik-adik memilih kuliah di fakultas ini?” Jawabannya selalu beragam, namun ada alasan umum yang sering muncul. Kelompok mahasiswa pertama biasanya menjawab karena gelar Sarjana Hukum atau SH dianggap bergengsi dan memiliki nama yang “keren”. Ada juga yang menjawab karena lulusan hukum memiliki ruang lingkup pekerjaan yang sangat luas. Hal ini memang benar adanya; kita bisa melihat sendiri, dari satu fakultas ini lahir berbagai profesi penting di negara ini, ada yang menjadi hakim, jaksa, polisi, tentara, advokat, hingga pejabat negara. Peluang karier bagi lulusan hukum memang sangat terbuka lebar.

Pengalaman saya mungkin sedikit berbeda dibandingkan teman-teman seangkatan lainnya. Banyak rekan saya yang bekerja langsung di bidang penegakan hukum, sedangkan keseharian saya lebih banyak bersentuhan dengan pengelolaan organisasi besar dan pendidikan tinggi. Saat ini saya menjabat sebagai Wakil Ketua Yayasan Indonesia Timur, yang menaungi Universitas Indonesia Timur (UIT). Posisi ini saya pegang setelah Ketua Yayasan kami terpilih menjadi anggota DPR RI, dan sempat saya pegang sebagai pelaksana tugas ketua sebelum beliau kembali memimpin yayasan. Meski tidak bekerja langsung di pengadilan atau kepolisian, saya menyadari bahwa bekal ilmu hukum dari Universitas Hasanuddin-lah yang membuat saya mampu beradaptasi dan berkarier di bidang pengelolaan yayasan dan perguruan tinggi.